Mantan Ketum PWI Dorong Penguatan SDM Jurnalistik Hadapi Tantangan AI

  • 01 Feb 2026 11:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Mantan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Hendry Chairudin Bangun, menegaskan pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) jurnalistik. Menurutnya, tantangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menuntut wartawan lebih kompeten, beretika, dan mampu menghasilkan karya jurnalistik berkualitas.

Hendry menilai, pemerintah tidak cukup hanya menyebut media menghadapi tantangan zero-click, tetapi juga harus menghadirkan solusi konkret. Salah satunya melalui pelatihan berkelanjutan bagi wartawan agar mampu menghasilkan karya jurnalistik berkualitas. 

Ia menyoroti masih minimnya media yang memiliki SDM unggul karena sistem kerja yang menuntut kuantitas berita ketimbang kualitas. Padahal, lanjutnya, jurnalisme mendalam membutuhkan waktu, riset, dan kompetensi tinggi. 

"Untuk menjadi berkualitas itu perlu pelatihan yang rutin, yang perlu pendalaman. Wartawannya tidak ditarget untuk membuat sekian berita gitu, tapi bikin berita yang baik dan berkualitas," ujar Hendry saat berbincang dengan Pro3 RRI, Minggu, 1 Februari 2026.

Hendry juga mendorong edukasi publik agar tidak hanya mengandalkan informasi instan dari media sosial atau rangkuman AI. Ia menegaskan, berita yang akurat dan taat kode etik hanya dapat diperoleh melalui media massa yang kredibel. 

Sebelumnya, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria, mengingatkan ancaman siber era AI kini menyasar langsung kehidupan harian masyarakat. Sasarannya mencakup rekening pribadi, identitas digital, serta perangkat yang digunakan warga setiap hari.

Nezar menyebut, pola serangan siber berubah signifikan seiring pemanfaatan kecerdasan buatan oleh pelaku kejahatan. Ancaman kini bisa terjadi tanpa sadar, tidak selalu akibat kelalaian pengguna mengklik tautan berbahaya.

Ia menegaskan, serangan kini tak selalu memerlukan klik, termasuk melalui skema zero-click attack. Nezar mengatakan pesan masuk saja cukup memicu malware bekerja, dalam keterangan resmi di Jakarta.

"Data Boston Consulting Group (BCG) Desember 2025 menunjukkan serangan berkembang lebih cepat daripada pertahanan. Ini sebabnya warga sering menjadi korban tanpa sadar," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....