Menperin Soroti Ketergantungan Pasar Domestik Industri

  • 26 Jan 2026 13:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menilai industri manufaktur nasional masih bergantung kuat pada pasar domestik. Kondisi tersebut muncul di tengah kinerja nilai tambah manufaktur Indonesia yang terus menguat secara global.

Agus menyampaikan struktur output industri pengolahan nasional masih didominasi penyerapan dalam negeri. Pola ini dinilai membatasi optimalisasi ekspansi industri manufaktur ke pasar global bernilai tinggi.

Kinerja manufaktur nasional sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan positif melampaui ekonomi nasional. Namun, penguatan tersebut belum sepenuhnya diiringi peningkatan porsi ekspor produk manufaktur.

Kontribusi industri pengolahan nonmigas (IPNM) terhadap perekonomian nasional tetap berada pada level signifikan. Struktur permintaan yang timpang dinilai menjadi tantangan lanjutan bagi penguatan daya saing ekspor.

“Sebanyak 78,39 persen output manufaktur diserap oleh pasar domestik. Sementara hanya 21,61 persen output manufaktur itu dikirim sebagai barang-barang ekspor kita,” ujar Agus dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.

Agus menilai komposisi tersebut mencerminkan ketergantungan industri pada konsumsi domestik nasional. Ketergantungan ini dinilai mengurangi ketahanan industri menghadapi dinamika pasar global.

Dengan total output manufaktur mencapai Rp8.381 triliun pada 2024, ruang ekspansi ekspor masih terbuka lebar. Pemerintah mendorong pelaku industri memanfaatkan peluang pasar global secara lebih agresif.

Agus menjelaskan kinerja ekspor industri pengolahan nonmigas masih menjadi penopang utama perdagangan nasional. Nilai ekspor manufaktur tetap mencerminkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

“Ekspor industri pengolahan nonmigas secara kumulatif mencapai 205,93 miliar dolar Amerika. Neraca perdagangan industri pengolahan nonmigas mencatat surplus sebesar 35,95 miliar dolar,” kata Agus.

Ia menilai surplus tersebut belum sepenuhnya mencerminkan struktur ekspor yang optimal. Ketergantungan pada pasar domestik masih membatasi peningkatan nilai tambah berbasis ekspor.

Agus menekankan perlunya reorientasi kebijakan industri menuju pasar global berkelanjutan. Strategi tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko perlambatan permintaan domestik.

Pemerintah mendorong transformasi industri berbasis produktivitas, inovasi, dan diversifikasi pasar ekspor. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai manufaktur global.

Agus optimistis penguatan ekspor manufaktur dapat menekan ketergantungan pasar domestik secara bertahap. Industrialisasi berorientasi ekspor dinilai menjadi kunci ketahanan ekonomi jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....