Jangkauan SPPG Masih Jadi Tantangan Pemenuhan Gizi Ibu Hamil

  • 25 Jan 2026 13:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kemendukbangga/BKKBN mengungkapkan keterbatasan jangkauan SPPG menjadi tantangan utama pemenuhan gizi ibu hamil dan kelompok rentan. Untuk itu pemerintah tengah mengkaji skema layanan gizi alternatif untuk wilayah terpencil.

Secara umum pemenuhan Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil masih mengikuti SPPG yang sama dengan MBG sekolah. Namun, hasil identifikasi terakhir menunjukkan banyak daerah memiliki jarak layanan yang terlalu jauh.

“Nah, kalau yang secara umum kita ikuti SPPG itu. Tapi dari identifikasi kita terakhir kan ternyata banyak daerah-daerah yang coverage-nya sangat jauh,” kata Deputi Bidang Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga/BKKBN, Wahidin, usai puncak perayaan Hari Gizi Nasional di Jakarta, Minggu, 25 Januari 2026.

Ia menjelaskan, jarak distribusi yang terlalu jauh berpotensi memengaruhi kualitas makanan. Waktu antar yang lama dinilai dapat berdampak pada keamanan dan mutu pangan.

“Kan seringkali itu sudah diantarnya terlalu lama, jarak waktu terlalu lama. Kemudian yang di khawatirkan ini berpotensi dari sisi makanannya,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah sedang mengkaji model SPPG skala kecil yang lebih dekat dengan sasaran. "Saat ini sedang dipikirkan untuk SPPG biar kita bisa menyediakan dapur sehat yang mirip, dengan skala yang lebih kecil,” ucap Wahidin.

Selain jangkauan, Wahidin menilai perbaikan pemenuhan gizi juga perlu dilakukan dari sisi perencanaan menu. Kebutuhan gizi anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui dinilai tidak bisa disamakan.

“Ya idealnya harus di klaser, jangan sama, karena kebutuhan visinya berbeda-beda,” katanya. Ia berharap peran ahli gizi di SPPG dapat semakin diperkuat.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyebut pemenuhan gizi ibu hamil menunjukkan kemajuan signifikan. Dalam lima tahun terakhir, angka anemia ibu hamil menurun drastis.

"Lima tahun yang lalu yang anemia ibu hamil itu 48%, jadi 1 dari 2. Sekarang sudah turun menjadi 27%,” ujar Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi.

Meski demikian, ia menilai capaian tersebut belum cukup. Ia menegaskan angka tersebut masih jauh dibandingkan negara maju yang berada di bawah 20 persen.

Maria juga menyoroti peran bidan dan ahli gizi dalam edukasi gizi ibu hamil serta balita. Ia menyebut masih ada pekerjaan rumah besar, terutama pada periode awal kehidupan anak.

"Kita masih ada PR yang di awal kehidupan usia 2 tahun ternyata yang anehnya 10%. Jadi artinya pemenuhan gizi kita masih harus terus diperbaiki kedepan," ucap Endang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....