DPR Ingatkan Keselamatan Wisatawan Harus jadi Fondasi Utama
- 05 Jan 2026 09:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Komisi VII DPR RI menegaskan, pentingnya reformasi total faktor keselamatan dan keamanan pariwisata nasional memasuki awal tahun 2026. Sorotan ini muncul, menyusul rangkaian kecelakaan wisata yang terjadi sepanjang tahun 2025.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty menegaskan, keselamatan wisatawan harus menjadi fondasi utama pembangunan pariwisata. Ia menilai faktor keselamatan belum menjadi prioritas kebijakan secara konsisten.
“Faktor keselamatan dan keamanan harus menjadi fondasi utama dalam pengembangan destinasi wisata Indonesia. 'Safety and security tourism' harus menjadi pilar utama pariwisata Indonesia serta menempatkan aksesibilitas, amenitas, atraksi (3A+S)," kata politikus PDIP ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Evita menilai, sejumlah tragedi wisata sepanjang 2025 menimbulkan korban jiwa dari berbagai destinasi. Peristiwa tersebut terjadi di kawasan laut, pantai, gunung, hingga transportasi penyeberangan.
Ia menilai, jaminan keselamatan wisatawan harus sejajar dengan target peningkatan kunjungan dan belanja wisata. Menurutnya, karakter geografis Indonesia menuntut perhatian lebih pada aspek keselamatan.
“Berulangnya kecelakaan di destinasi wisata menunjukkan bahwa keselamatan dan keamanan belum menjadi prioritas utama kebijakan pariwisata. Satu nyawa yang hilang adalah kegagalan sistem, ini tidak boleh dianggap hal biasa,” ucapnya.
Komisi VII mendorong Kementerian Pariwisata RI untuk mengambil inisiatif reformasi keselamatan pariwisata secara menyeluruh. Reformasi diharapkan melibatkan lintas kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan terkait.
kemudian, ia menuturkan, perlunya penetapan standar nasional keselamatan dan keamanan pariwisata. Standar tersebut mencakup sertifikasi operator, sistem peringatan dini, dan koordinasi respon cepat.
“Harus ada yang leading untuk menjadi koordinator yang mengatur semua sumber daya secara cepat. Semua sudah ada lembaganya yang menjalankan fungsi masing-masing, kita harus bongkar sisi lemahnya, ini termasuk pre-emtif dan preventif,” ujarnya.
Dari sisi wisatawan, Evita juga mendorong kesadaran kritis terhadap prosedur keselamatan di lapangan. Wisatawan diminta berani menolak aktivitas jika keselamatan tidak terjamin.
“Wisatawan harus kita berdayakan juga. Wisatawan harus berani meminta jaminan keselamatan dari operator, jika ragu jangan ikut,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....