Cerita Reporter RRI Meliput Bencana di Aceh Tamiang

  • 23 Des 2025 02:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Perjalanan memasuki Aceh Tamiang memperlihatkan wajah bencana yang tak hanya merusak rumah, tetapi juga ketahanan batin warga. Reporter RRI Joko Saputra menilai kondisi tersebut dipengaruhi faktor geografis daerah aliran sungai yang padat permukiman.

“Warga kehilangan rumah, harta, bahkan semangat hidup, sehingga kehadiran kami dianggap sebagai harapan baru,” ujarnya kepada Pro3 RRI.

Joko menegaskan bahwa masyarakat Aceh Tamiang masih menghadapi fase krisis pascabanjir dengan keterbatasan logistik memprihatinkan. Menurutnya, ribuan keluarga terdampak belum memperoleh kebutuhan dasar akibat akses terputus dan sarana penunjang belum sepenuhnya pulih.

“Mereka melewati fase kelaparan dan belum masuk tahap pemulihan, sehingga bantuan harus terus mengalir,” ucapnya.

Ia memaparkan bahwa wilayah permukiman di bantaran Sungai Tamiang memperparah dampak banjir bandang yang terjadi. Menurut Joko, pemerintah, relawan, dan lembaga kemanusiaan harus bersinergi karena skala kerusakan melampaui kemampuan warga bertahan.

“Rumah tertimbun lumpur hingga atap, listrik belum pulih, dan alat berat masih sangat dibutuhkan,” katanya.

Joko menambahkan, kondisi kesehatan menjadi ancaman lanjutan akibat minimnya air bersih serta sanitasi pascabencana. Ia memperkirakan pemulihan sosial masyarakat memerlukan waktu panjang seiring hilangnya sumber penghidupan utama warga setempat.

Ia menggarisbawahi bahwa informasi jurnalistik menjadi jembatan empati publik untuk mendorong solidaritas nasional berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....