DPR Nilai Penanganan Krisis Iklim Harus Menyentuh Akar
- 22 Des 2025 09:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Trenggalek: Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini menyatakan krisis iklim perlu dijawab melalui kebijakan yang menyentuh akar persoalan. Ia menekankan langkah konkret pada sektor yang paling memungkinkan dilakukan.
Berdasarkan peta emisi Trenggalek, Novita menyebut sektor pertanian menjadi penyumbang emisi terbesar. Penggunaan pupuk kimia secara masif dinilai berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca.
“Karena itu, tugas utama kita hari ini adalah menurunkan emisi gas rumah kaca secara nyata dan terukur. Hal itu dimulai dari sektor yang paling mungkin ditangani di daerah, yaitu pengolahan limbah organik, misalnya limbah dari SPPG dan Dapur MBG,” ucap Novita pada kegiatan soft launching program Perempuan Sarinah di Trenggalek, Minggu (21/12/2025).
Ia mengatakan langkah tersebut sejalan agenda ketahanan pangan nasional Presiden Prabowo Subianto. Ketahanan pangan, menurutnya, tidak terpisahkan dari kesehatan ekosistem pertanian.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi beras atau jagung, tetapi soal bagaimana kita merawat sumber-sumber kehidupan. Agar nantinya pertanian tetap produktif untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Novita menilai pengolahan limbah organik menjadi solusi strategis menghadapi dua tantangan sekaligus. Upaya ini dinilai mampu menurunkan emisi dan memperkuat kemandirian pangan masyarakat.
“Dampaknya langsung pada penurunan emisi. Langkah ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” ucap Novita.
Ia mengungkapkan sektor pertanian menyumbang sekitar 40 persen emisi daerah. Emisi tersebut terutama berasal dari pupuk kimia nitrogen yang menghasilkan gas N₂O.
Novita mendorong bauran pupuk 60 persen kimia dan 40 persen organik hasil pengolahan sampah. Skema ini dinilai menjaga tanah dan air serta memperkuat keberlanjutan pertanian.
Dalam konteks itu, Novita menyebut Perempuan Sarinah sebagai pendekatan transformasi sosial dan ekonomi. Program ini memadukan ketahanan pangan, lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan ekonomi hijau.
“Orang lain melihat ini sebagai krisis, tapi Perempuan Sarinah melihat ini sebagai peluang,” ucapnya. Ia menilai Trenggalek menjadi titik temu visi ketahanan pangan nasional dan juga merupakan salah satu ajaran Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri.
Pendekatan tersebut, menurutnya, dapat diwujudkan melalui pelestarian lingkungan dan pemberdayaan perempuan. “Ketika agenda lingkungan berjalan seiring dengan ekonomi rakyat, manfaatnya dirasakan rakyat; inilah arah pembangunan berkeadilan, berdaulat, dan berkelanjutan," ucap Novita.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....