Yoyo Yogasmana Beberkan Alasan Perubahan Nama Kasepuhan Ciptagelar
- 16 Sep 2025 19:57 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Juru Komunikasi Kasepuhan Ciptagelar Sukabumi, Yoyo Yogasmana membeberkan alasan perubahan nama Kasepuhan Ciptagelar menjadi Gelar Alam. Menurutnya, perubahan ini terjadi karena adanya tradisi 'ngalalakon' atau perpindahan kampung secara turun-temurun yang sudah ditentukan oleh leluhur.
Ia mengatakan, bahwa saat ini Gelar Alam memiliki dua sistem pertanian yang berbeda dari sebelumnya. Sistem tersebut meliputi pertanian di lahan kering dan basah.
"Pertanian lahan kering ini menjadi pertanian yang wajib kami jalani, tidak boleh tergantikan apalagi dihilangkan. Kalau bersawah adalah kegiatan pertanian sistem baru," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Selasa (16/9/2025).
Ia menjelaskan, prosesi pertanian lahan kering meliputi penanaman seperti padi, kacang-kacangan, jagung, hingga umbi-umbian. Sedangkan di lahan basah seperti sawah, hanya boleh menanam padi.
Dalam masyarakat adat Baduy, mereka berpegang prinsip dan tradisi yang kuat yaitu 'padi tidak untuk dijual'. Prinsip inilah yang kemudian melekat dan menjadi sebuah kebiasaan untuk menyimpan cadangan makanan.
Meskipun padi tidak boleh diperjualbelikan, namun hasil bumi lainnya masih boleh jual. "Kacang-kacangan, jagung, hingga umbi-umbian masih boleh diperjual belikan," ujarnya, menjelaskan.
Ia menambahkan, saat ini masyarakat adat Baduy memiliki enam ribu kepala keluarga. Untuk mencapai ketahanan pangan, masyarakat adat Baduy memiliki lumbung padi sendiri.
Ia membeberkan setiap kepala keluarga memiliki jumlah lumbung padi berbeda-beda, mulai dari dua hingga sembilan. Lumbung padi yang berada di wilayahnya tercipta sejak tahun 1838 hingga sekarang.
"Artinya 187 tahun sudah mewadahi padi sejak saat itu. Kata orang dulu, lumbung padi adalah jimat, bahkan sampai 300 tahun, mereka tetap ada," ucap Yoyo.
Kini Kampung Gelar Alam, pihaknya telah menanam sepuluh varietas padi, dan penanaman tersebut telah dilakukan turun-temurun. Menariknya, semua bibit padi yang didapatkan berasal dari wilayahnya.
"Bibit ini titipan dari leluhur kami. Bibit dari luar bisa kami tanam di sini, tapi tidak bisa menjadi keutamaan," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....