Pemerintah Catat Puluhan Bahasa Daerah Direvitalisasi

  • 16 Des 2024 17:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat sebanyak 97 bahasa daerah direvitalisasi pada 2021-2024. Selain itu, sebanyak 22,4 juta orang berpartisipasi pada program revitalisasi bahasa daerah sepanjang 2021-2024.

Di mana, sebanyak 8 juta di antaranya adalah siswa lintas jenjang. "Tahun lalu angkanya hanya 10,5 juta orang, berarti tahun ini penambahannya ada sekitar 12 juta orang," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) E Aminudin Aziz di Kantor Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (16/12/2024).

Menurutnya, berbagai pihak terus upaya menghidupkan dan menyegarkan kembali bahasa daerah bagi penuturnya. Di antaranya didorong oleh orang tua siswa, guru, pengawas, kepala sekolah.

Bahkan, pegiat bahasa-sastra, budayawan, seniman, fasilitator, dosen, akademisi, ahli bahasa dan sastra. Kemudian, juga duta bahasa, serta perwakilan pemerintah daerah dan BUMN.

Ia mengatakan, prioritas Badan Bahasa bidang pelindungan bahasa dan sastra daerah tahun ini difokuskan pada revitalisasi bahasa daerah. Adapun bahasa yang direvitalisasi yakni bahasa yang masih memiliki penutur.

"Sepanjang ada penutur bahasa daerah, maka bahasa itu wajib terus direvitalisasi. Sehingga bahasa tersebut akan terus menerus hidup dengan terus disegarkan agar penggunaannya tidak mengalami kemunduran," katanya.

Ia mengatakan, ke-718 bahasa daerah se-Indonesia idealnya direvitalisasi. Meskipun belum dapat dilakukan saat ini.

"Bagaimanapun, bahasa daerah itu menyimpan khazanah kebudayan dan ilmu pengetahuan yang mungkin tidak bisa diekspresikan dalam bahasa yang lain. Ada rasa dalam bahasa daerah itu yang tidak akan terungkap dalam bahasa lain. Ini yang tetap ingin kita pertahankan," ujarnya.

Adapun 97 bahasa daerah yang direvitalisasi per 2024 berangkat dari pilihan masyarakat penuturnya. Sejumlah masyarakat juga menilai bahasa daerahnya tidak perlu direvitalisasi karena penuturnya yang tinggal sedikit.

"Tinggal beberapa puluh orang. Jadi daripada mereka bersusah payah, dan mereka juga bermigrasi ke kota, ya sudah 'kami menggunakan bahasa lain saja'," ujarnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....