Peringatan 132 Tahun Injil Masuk Di Tanah Papua Bagi Misi Katolik

  • 22 Mei 2026 07:53 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Umat Katolik mengenang sejarah masuknya misi Katolik pertama di Tanah Papua pada 22 Mei 1894, di Kampung Sekru, Distrik Pariwari, Kabupaten Fak-Fak, Papua Barat. Peringatan 132 Tahun Injil Masuk di Tanah Papua Ini bukan saja merupakan momentum perayaan sejarah Gereja Katolik, tetapi juga pengingat akan panggilan iman untuk menjaga Tanah Papua sebagai ciptaan Tuhan yang suci dan mulia

Peringatan tahun ini mengusung tema “Setia Pada Agama Tuhan, Selamatkan Bumi Papua” dengan subtema “Pentingnya Misi Katolik di Tanah Papua.” Tema tersebut mengajak umat untuk tetap teguh dalam iman sekaligus menjaga kelestarian alam Papua sebagai ciptaan Tuhan.

Ketua Pokja Adat MRP Provinsi Papua Tengah, Yulius Wandagau, SE, mengatakan bahwa Fak-Fak merupakan pintu awal misi Katolik di Tanah Papua. Sejarah mencatat, misi tersebut dipelopori oleh Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, SJ yang membaptis warga pribumi pertama di Kampung Sekru pada 22 Mei 1894.

“Sejak awal, misi Katolik tidak hanya soal doa, tetapi juga tentang kehidupan manusia dan alam ciptaan Tuhan. Misi dimulai dengan pewartaan Injil, pendidikan, dan pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Menurutnya, visi awal para misionaris adalah menghadirkan iman yang utuh, yakni iman yang menyentuh manusia sekaligus menjaga alam Papua.

Dalam refleksi 132 tahun Injil masuk Papua, umat Katolik juga diajak untuk terus setia pada ajaran Tuhan melalui kehidupan yang jujur, adil, dan penuh kasih.

“Setia pada agama Tuhan berarti iman harus nyata dalam kehidupan sehari-hari. Inilah warisan yang ditanamkan para misionaris di Tanah Papua,” kata Yulius.

Selain memperkuat iman, peringatan ini juga menjadi momentum untuk menyuarakan penyelamatan lingkungan hidup di Papua. Papua disebut sebagai tanah yang diberkati Tuhan dengan kekayaan hutan, laut, gunung, sungai, serta flora dan fauna yang luar biasa.

Namun, kondisi bumi Papua saat ini dinilai menghadapi ancaman serius akibat deforestasi, pencemaran lingkungan, perusakan hutan, hingga kerusakan tanah adat dan budaya masyarakat adat.

Dalam kesempatan itu, Yulius juga menyinggung ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus yang menyerukan kepedulian seluruh umat manusia terhadap lingkungan hidup sebagai “rumah bersama”.

“Setia pada Tuhan tidak cukup jika kita merusak ciptaan-Nya. Menjaga bumi Papua adalah bagian dari iman kita,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa misi Katolik dan ekologi integral tidak dapat dipisahkan. Para misionaris awal hidup selaras dengan alam Papua dan Gereja dipanggil menjadi suara bagi ciptaan yang sedang terluka.

Berbagai aksi nyata juga telah dilakukan umat Katolik di Papua, seperti program penanaman mangrove dan bersih pantai di Fak-Fak dan Kaimana, kebun sekolah di lingkungan pendidikan Katolik, hingga gerakan menjaga tanah adat dan hutan oleh komunitas basis gereja.

“Ini bukan sekadar teori. Umat Katolik Papua sudah bergerak. Misi hidup ketika iman diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujarnya.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi Gereja dan masyarakat Papua saat ini masih cukup besar, mulai dari eksploitasi sumber daya alam, sikap apatis terhadap lingkungan, hingga generasi muda yang mulai jauh dari nilai adat dan alam.

Karena itu, dalam semangat 132 tahun misi Katolik, Gereja didorong untuk menjadikan setiap paroki sebagai pusat ekologi integral dan membangun kader pemimpin Gereja asli Papua yang peduli terhadap lingkungan hidup.

“Misi ke depan bukan lagi dari luar ke dalam, tetapi orang Papua sendiri yang menjadi penjaga iman dan penjaga bumi,” katanya.

Peringatan ini juga diisi dengan kutipan Sabda Tuhan dari Matius 28:19, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku,” serta pesan Santo Fransiskus Asisi, “Laudato Si’, mi Signore — Terpujilah Engkau, ya Tuhan.”

Di akhir refleksinya, Yulius mengajak seluruh umat untuk terus menjaga kesetiaan kepada Tuhan dan Tanah Papua.

“132 tahun misi Katolik adalah panggilan untuk setia. Setia pada Tuhan dan setia pada bumi Papua. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua,” tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....