Tiga Negara Dilarang Tampil di Piala Dunia 2026
- 12 Agt 2025 23:42 WIB
- Nabire
KBRN, Nabire: Timnas Rusia dipastikan tidak bisa tampil di Piala Dunia 2026. Tuan rumah Piala Dunia 2018 itu memang dilarang tampil pada ajang Piala Dunia 2026 oleh FIFA.
Sebab, Federasi Sepak Bola Rusia (RFU) kini sedang disanksi. FIFA, sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia, memiliki aturan terhadap campur tangan politik dalam olahraga.
Dalam beberapa kesempatan, badan ini menjatuhkan sanksi larangan tampil di Piala Dunia kepada sejumlah negara akibat situasi politik yang kompleks. Keputusan tersebut kerap melibatkan dukungan atau rekomendasi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Indonesia juga pernah mendapat sanksi dari FIFA karena dinilai ada campur tangan negara dalam internal PSSI. Tercatat ada tiga negara dalam sejarah yang secara resmi dilarang tampil di Piala Dunia karena alasan politik.
Ketiganya mengalami nasib pahit akibat situasi geopolitik yang memanas di negaranya masing-masing, dan sanksi ini berdampak langsung pada prestasi mereka di kancah internasional.
1. Rusia
Setelah menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018, Rusia justru tersingkir dari edisi 2022 dan 2026 akibat invasi ke Ukraina. FIFA dan UEFA mengumumkan penangguhan pada Mei 2022, setelah sejumlah negara seperti Inggris, Polandia, dan Swedia menyatakan enggan bertanding melawan Rusia.
Sanksi ini tidak hanya berlaku untuk tim senior, tetapi juga mencakup tim muda, tim putri, dan seluruh ajang di bawah naungan UEFA.
Pada kualifikasi Piala Dunia 2022, Rusia sebenarnya sudah mencapai babak play-off. Namun, laga kontra Polandia dibatalkan dan lawan mereka langsung melaju ke putaran berikutnya. Rusia sempat mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga, tetapi gagal.
Meski begitu, pada Maret lalu sempat muncul laporan bahwa ada upaya untuk mengembalikan Rusia ke kancah sepak bola internasional.
2. Yugoslavia
Tahun 1992 menjadi titik kelam bagi sepak bola Republik Federal Yugoslavia. Di tengah sanksi PBB akibat konflik politik dan pembubaran negara tersebut, FIFA melarang mereka tampil di turnamen internasional.
Padahal, Yugoslavia sudah memastikan diri sebagai juara grup kualifikasi Euro 1992. Sepuluh hari sebelum turnamen dimulai, mereka digantikan oleh Denmark yang justru keluar sebagai juara.
Larangan ini berlanjut hingga kualifikasi Piala Dunia 1994. Setelah sanksi dicabut, Serbia dan Montenegro tetap berkompetisi dengan nama Yugoslavia hingga 2003, sebelum akhirnya berganti identitas dan berhasil lolos ke Piala Dunia 2006.
Keduanya kemudian berpisah menjadi negara berdaulat yang berlaga secara terpisah di panggung sepak bola internasional.
Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 yang sukses memikat dunia, tetapi sejarah mereka di ajang ini pernah kelam. Pada 1961, FIFA menjatuhkan larangan akibat kebijakan apartheid yang diskriminatif.
Larangan sempat dicabut pada 1963 setelah kunjungan Presiden FIFA saat itu, Stanley Rous, namun kembali diperketat setelah usulan tim Piala Dunia dengan formasi rasial—seluruhnya berkulit putih untuk edisi 1966 dan seluruhnya berkulit hitam untuk edisi 1970—ditolak mentah-mentah.
3. Afrika Selatan
Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan akhirnya diskors pada 1965 dan dikeluarkan secara resmi dari FIFA dua tahun kemudian di masa kepemimpinan Joao Havelange.
Baru pada 1992, setelah sistem apartheid dihapuskan, mereka dipulihkan keanggotaan FIFA. Empat tahun kemudian, mereka menorehkan sejarah dengan menjuarai Piala Afrika 1996.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....