Cerita Leluhur dan Musik Tradisi Hidupkan Festival Seni Budaya Mimika.
- 05 Okt 2026 14:44 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Mimika - Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Festival Seni Budaya sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-30 Kabupaten Mimika yang akan di laksanakan pada tanggal 12 Oktober mendatang serta menyambut Hari Kebudayaan Nasional Tahun 2026 yang akan diperingati pada 17 Oktober mendatang.
Festival dengan tema “Merawat Cerita, Menghidupkan Musik, Melestarikan Budaya di Tanah Amungsa Bumi Kamoro” tersebut resmi dibuka pada Senin, 5 Oktober 2026, di Jalan Yos Sudarso, halaman eks Pasar Sentral Mimika. dan berlangsung hingga Kamis, 8 Oktober 2026.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika selaku panitia, Daniel Orun, mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai upaya melestarikan kekayaan budaya lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Daniel menjelaskan, Kabupaten Mimika memiliki kekayaan budaya yang berasal dari dua suku utama, yakni Amungme yang mendiami wilayah pegunungan dan Kamoro yang mendiami wilayah pesisir.
“Kedua suku tersebut memiliki cerita rakyat, musik, tarian, pakaian adat serta berbagai kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar Daniel.
Ia mengatakan, tema festival dipilih sebagai refleksi pentingnya menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman.
“Merawat cerita berarti menjaga sejarah lisan masyarakat Amungme dan Kamoro. Menghidupkan musik berarti mengaktualisasikan kembali lagu dan alat musik tradisional, sedangkan melestarikan budaya dilakukan melalui penggunaan pakaian adat dan berbagai kesenian daerah,” katanya.
Daniel menambahkan, festival juga menjadi bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta semangat otonomi khusus Papua dalam melindungi dan mengembangkan kebudayaan asli Papua.
Berbagai kegiatan disiapkan selama festival berlangsung, mulai dari fashion show, cerita rakyat, pentas seni tradisional, tarian dan musik daerah hingga lomba musik akustik. Selain itu, masyarakat dapat melihat pameran kerajinan, rajutan, anyaman, ukiran serta kuliner dari sanggar binaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Panitia mencatat sebanyak 30 sanggar mengikuti kegiatan festival seni budaya, 12 sanggar mengikuti pameran kuliner dan kerajinan, 20 peserta mengikuti fashion show, 20 peserta mengikuti lomba cerita rakyat, serta 18 peserta mengikuti lomba musik akustik.
“Kami menargetkan kegiatan ini dapat dihadiri sekitar 2.000 pengunjung selama pelaksanaan festival,” kata Daniel.
Rangkaian kegiatan pada Senin, 5 Oktober, diisi dengan pembukaan festival, lomba fashion show, pentas seni tradisional, tarian dan musik daerah. Selanjutnya pada Selasa, 6 Oktober, digelar lomba cerita rakyat dan pentas seni tradisional.
Pada Rabu, 7 Oktober, kegiatan dilanjutkan dengan lomba musik akustik dan pentas seni. Sementara Kamis, 8 Oktober, diisi pentas seni tradisional, tarian dan musik daerah serta pengumuman hasil perlombaan.
Festival tersebut secara resmi dibuka oleh Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Bokeyau.

Dalam sambutannya, Fransiskus Bokeyau menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan Festival Seni Budaya Mimika.
“Tema yang kita angkat pada festival kali ini bukan sekadar rangkaian kata. Tema ini adalah doa, harapan dan komitmen kita bersama untuk menjaga warisan leluhur yang telah dititipkan kepada kita semua,” ujar Fransiskus.
Menurutnya, Tanah Amungsa dan Bumi Kamoro memiliki kekayaan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Setiap lembah, setiap sungai, setiap gunung menyimpan kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Cerita-cerita ini adalah jati diri kita dan tugas kita untuk terus merawat agar tidak hilang ditelan zaman,” katanya.
Fransiskus juga menilai musik merupakan bagian penting dari kebudayaan Mimika.
“Musik adalah denyut nadi kebudayaan. Dalam setiap lantunan lagu tradisional, dalam setiap tabuhan tifa, terkandung jiwa dan semangat masyarakat Mimika,” ujarnya.
Ia menegaskan, pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab tokoh adat dan pelaku seni, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.
“Pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab para ketua adat dan pelaku seni, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan maupun generasi muda,” katanya.
Fransiskus menyebut Suku Amungme dan Suku Kamoro sebagai dua pilar utama kebudayaan Kabupaten Mimika.
“Suku Amungme dan Suku Kamoro adalah dua pilar utama yang menopang kebudayaan Kabupaten Mimika. Keduanya adalah penjaga alam dan budaya yang telah menjaga keseimbangan kehidupan selama berabad-abad,” tuturnya.
Ia berharap Festival Seni Budaya dapat menjadi ruang bagi para pencerita untuk membagikan kisah leluhur, para musisi untuk menghidupkan kembali musik tradisional, serta para penari untuk menampilkan keindahan budaya daerah.
“Saya berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana pembelajaran, inspirasi dan motivasi bagi generasi muda untuk terus mengenal, mencintai serta mengembangkan kebudayaan daerah sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan kita bersama,” kata Fransiskus.
Panitia menargetkan Festival Seni Budaya dapat menjadi agenda tahunan, semakin banyak generasi muda terlibat dalam pelestarian budaya Amungme dan Kamoro, serta memberikan dampak ekonomi bagi pelaku seni, sanggar, pengrajin dan masyarakat.
Selain itu, dokumentasi cerita, musik dan tarian tradisional diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan sebagai referensi pemajuan kebudayaan daerah sekaligus menjadi media promosi budaya Mimika di tingkat lokal maupun nasional.(Sandra)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....