Tobi Bagubau Hadirkan Ruang Baca Gratis untuk Warga Mimika
- 17 Agt 2026 02:45 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Mimika — Gerakan literasi di Kota Timika tidak hanya berlangsung di ruang pendidikan formal. Tobi Bagubau, seorang anak muda asal Papua, memilih turun langsung ke ruang publik dengan mendirikan Komunitas Lapak Baca Jalanan sebagai wadah membaca gratis bagi masyarakat, Minggu 16 Agustus 2026.
Selama kurang lebih delapan tahun bergerak di Timika, Tobi konsisten menyediakan berbagai jenis buku yang dapat dibaca masyarakat tanpa dipungut biaya. Baginya, buku merupakan sumber pengetahuan yang harus dapat diakses siapa saja, sekaligus menjadi sarana membangun kebiasaan berpikir kritis.
Melalui lapak baca tersebut, Tobi tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga membuka ruang diskusi dan tanya jawab. Berbagai buku yang ditampilkan dalam kegiatan maupun melalui media sosial menjadi bagian dari upayanya memperkenalkan masyarakat pada beragam informasi dan pengetahuan.

Tobi mengatakan, gerakan literasi yang dijalankannya lahir dari inisiatif pribadi tanpa bergantung pada sponsor atau bantuan dari pihak tertentu. Ia memilih tetap independen karena ingin memastikan kegiatan membaca dapat berjalan secara konsisten dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat serta generasi muda.
Menurut Tobi, menjadi penggerak literasi bukan tentang mencari keuntungan maupun memperoleh kewenangan tertentu. Lebih dari itu, gerakan literasi merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membaca, memperoleh informasi, dan memperluas wawasan.
Di sisi lain, Tobi menyoroti keberadaan sejumlah komunitas yang menurutnya hanya aktif ketika ada momentum tertentu, kemudian berhenti atau vakum. Ia menilai konsistensi menjadi hal penting karena gerakan sosial seharusnya tidak hanya terlihat ketika kegiatan berlangsung, tetapi juga mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Pengalaman selama menjalankan Lapak Baca Jalanan Kota Timika membuat Tobi memiliki pandangan kritis terhadap pola gerakan komunitas. Ia berharap masyarakat maupun pemerintah dapat membedakan komunitas yang benar-benar bekerja di lapangan dengan kegiatan yang hanya muncul untuk kepentingan sesaat.
Tobi juga menilai perkembangan teknologi digital dapat menjadi peluang besar bagi gerakan literasi. Media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, dan WhatsApp dapat digunakan untuk memperkenalkan buku, membagikan gagasan, membuka diskusi, serta mengajak masyarakat membangun kebiasaan membaca.
Menurutnya, membudayakan membaca tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan besar. Penggerak literasi dapat membacakan bagian menarik dari sebuah buku, membahas gagasan penulis, memperkenalkan karakter buku, maupun mengadakan diskusi terbuka sehingga masyarakat memiliki alasan untuk tertarik membaca.
Ia menambahkan, setiap buku memiliki karakter dan kelompok pembaca yang berbeda. Buku sejarah, novel, puisi, literatur anak, hingga buku akademik membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam memperkenalkannya kepada masyarakat. Karena itu, strategi literasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter pembaca.
Tobi berharap pemerintah daerah dapat melihat kerja nyata para penggerak literasi di lapangan dan membuka ruang komunikasi yang lebih luas. Dukungan terhadap komunitas tidak selalu harus berupa bantuan dana, tetapi juga dapat diberikan melalui penyediaan ruang publik, akses kegiatan, fasilitas membaca, serta kesempatan membangun jaringan.
Bagi Tobi Bagubau, gerakan literasi harus terus dijaga melalui sikap independen, konsisten, dan berorientasi pada kemanusiaan. Melalui Komunitas Lapak Baca Jalanan Kota Timika, ia ingin memastikan buku tetap hadir sebagai jembatan pengetahuan bagi masyarakat, karena budaya membaca diyakini menjadi salah satu jalan untuk melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis dan memahami realitas di sekitarnya.(Sandra)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....