Kajian Akademik Perkuat Masterplan Tailing di Kabupaten Mimika
- 09 Jul 2026 19:44 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID,Mimika - Focus Group Discussion (FGD) Review Masterplan Pengelolaan dan Pemanfaatan Tailing PT Freeport Indonesia (PTFI) yang bekerja sama dengan Universitas Islam Bandung (UNISBA) digelar di Aula Kantor Bapenda Kabupaten Mimika, Kamis 9 juli 2026. Kegiatan ini bertujuan menyempurnakan masterplan pengelolaan tailing sekaligus memperkuat dasar kebijakan pemanfaatannya melalui penyusunan Peraturan Daerah (Perda).
FGD tersebut dihadiri Bupati Mimika yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Politik dan Hukum, Dr. Yohana Paliling, Ketua DPRK Mimika atau yang mewakili, Forkopimda, pimpinan organisasi perangkat daerah, jajaran Direksi PT Mimika Abadi Sejahtera, perwakilan PT Freeport Indonesia, pimpinan lembaga adat YPMAK, Lemasa dan Lemasko, pimpinan perguruan tinggi di Kabupaten Mimika, tim akademisi dan tenaga ahli UNISBA, serta para peserta reviu masterplan.
Ketua Tim Leader UNISBA yang juga Perencana Wilayah dan Kota, Andy Utomo menjelaskan bahwa kajian yang disusun tim akademisi menggunakan berbagai metode, namun berfokus pada penyusunan sistem pemanfaatan tailing yang memiliki nilai ekonomi dan dapat diterapkan secara nyata di lapangan.
Menurutnya, penyusunan masterplan dimulai dengan memastikan seluruh rantai produksi berjalan secara jelas, mulai dari faktor produksi, proses pengolahan, hingga distribusi produk hasil pemanfaatan tailing. Pendekatan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan perusahaan daerah (Perusda) dalam menentukan arah pengelolaan tailing ke depan.
Andy mengungkapkan terdapat tiga tahapan pemanfaatan yang direkomendasikan dalam masterplan. Tahap pertama adalah penjualan tailing dalam bentuk material pasir. Tahap kedua berupa proses reekstraksi untuk mengambil logam-logam bernilai ekonomi yang masih terkandung di dalam tailing, seperti pasir besi maupun mineral lainnya, sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibanding hanya menjual material mentah.
Tahap ketiga adalah hilirisasi, yakni mengolah hasil reekstraksi menjadi berbagai produk bernilai tambah. Ia mencontohkan kemungkinan pemanfaatan logam tanah jarang (rare earth) yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri berteknologi tinggi, termasuk sektor pertahanan dan manufaktur.
Ia menjelaskan strategi tersebut dirancang secara bertahap. Perusahaan daerah diharapkan terlebih dahulu menjalankan usaha yang paling memungkinkan, kemudian sambil berjalan melakukan penelitian terkait reekstraksi, hingga pada akhirnya mampu mengembangkan industri hilirisasi. Dengan demikian, tailing tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki potensi ekonomi.
Andy juga mengungkapkan bahwa ketertarikan terhadap tailing Mimika cukup besar. Menurutnya, terdapat sekitar 20 perusahaan yang telah mengajukan minat untuk memanfaatkan tailing, sebagian besar berasal dari Tiongkok. Hal itu menunjukkan adanya keyakinan bahwa tailing masih mengandung mineral yang bernilai ekonomi.
Selain itu, ia menilai aktivitas ribuan penambang tradisional di kawasan tailing juga menjadi indikasi masih adanya kandungan emas, tembaga, dan mineral lain yang dapat dimanfaatkan. Karena itu, ia mendorong agar potensi tersebut dapat dikelola secara resmi melalui perusahaan daerah dengan dukungan regulasi yang kuat, sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi daerah sekaligus tetap memperhatikan aspek tata kelola dan keberlanjutan.(Sandra)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....