Hari Kedua Lokakarya, Pendidikan Katolik Didorong Kembali ke Akar Budaya

  • 17 Apr 2026 19:33 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Mimika - Memasuki hari kedua Lokakarya Pendidikan di Hotel Swiss-Belinn, Rabu (15/4/2026), suasana diskusi semakin mendalam dengan berbagai gagasan kritis yang menggugah arah pendidikan di Tanah Papua. Salah satu pemaparan yang mencuri perhatian datang dari Dr. Albertus Heriyanto, dosen STFT Fajar Timur Jayapura.

Dalam materinya bertajuk “Pendidikan Katolik sebagai Gerakan Kebudayaan”, Albertus menegaskan bahwa pendidikan Katolik di Papua tidak boleh lagi dipandang sebatas lembaga formal. Ia mendorong agar pendidikan dikembalikan pada hakikatnya sebagai gerakan kebudayaan yang membentuk manusia seutuhnya.

Menurutnya, saat ini sekolah-sekolah Katolik, khususnya yang berada di bawah naungan YPPK, tengah mengalami “pendangkalan” makna. Pendidikan cenderung terjebak dalam logika pasar, di mana sekolah hanya dilihat sebagai tempat memperoleh ijazah demi mendapatkan pekerjaan.

Padahal, lanjut Albertus, sekolah Katolik memiliki sejarah panjang di Papua sebagai wadah pembentukan manusia bermartabat, bukan sekadar mencetak individu yang cerdas secara akademik. Ia menekankan bahwa sekolah harus menjadi ruang persemaian nilai-nilai luhur yang membentuk karakter, iman, dan budaya.

Albertus juga menyoroti fenomena “penyakit kepegawaian” yang masih kuat di tengah masyarakat Papua. Banyak orang mengukur kesuksesan hanya dari status sebagai aparatur sipil negara atau pejabat, sehingga pendidikan dipersempit menjadi alat meraih kekuasaan dan status sosial.

Menurutnya, jika pendidikan terus berjalan dalam pola tersebut, maka anak-anak Papua akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri yang autentik. Ia menegaskan bahwa pendidikan harus membebaskan peserta didik dari mentalitas instan dan konsumtif.

Untuk mewujudkan pendidikan sebagai gerakan kebudayaan, Albertus menawarkan tiga pilar utama. Pertama, memulihkan ingatan historis dan antropologis, dengan mengingat kembali peran para misionaris dan guru perintis yang tidak hanya mengajar, tetapi juga hidup bersama masyarakat dan menghargai budaya lokal.

Kedua, merajut kembali hubungan yang terputus, baik antara sekolah dengan komunitas lokal, kurikulum dengan realitas kehidupan, maupun hubungan kemanusiaan antara guru dan murid sebagai satu kesatuan yang utuh.

Ketiga, membayangkan masa depan pendidikan Papua yang tidak memisahkan kecerdasan dengan identitas budaya. Ia menekankan bahwa anak-anak Papua harus bisa maju tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Papua dan sebagai pribadi beriman.

Dalam hal ini, peran guru juga harus mengalami transformasi. Guru tidak lagi sekadar pengajar yang mengejar jam mengajar, melainkan menjadi aktor kebudayaan yang memberi teladan hidup. Tanpa jiwa pengabdian dan kecintaan pada budaya, sekolah hanya akan menjadi bangunan tanpa makna.

Lokakarya ini diharapkan menjadi momentum refleksi bagi YPPK dan seluruh pemangku kepentingan untuk menata ulang arah pendidikan. Membangun pendidikan Katolik, menurut Albertus, berarti membangun kembali martabat manusia Papua melalui jalur kebudayaan.

Pada akhirnya, tujuan besar yang ingin dicapai adalah melahirkan generasi Papua yang berkarakter kuat, bangga akan identitasnya, serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai anak Tuhan di Tanah Papua. (Sandra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....