GKI PNIEL Timika Rayakan 171 Tahun Pekabaran Injil
- 07 Feb 2026 09:41 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID,MIMIKA – Ibadah Perayaan Pekabaran Injil (PI) di Tanah Papua ke-171 tahun berlangsung khidmat di Gereja GKI PNIEL, Jalan Baru, Timika, Kamis (5/2/2026). Ibadah yang dimulai pukul 18.00 WIT hingga selesai ini diikuti oleh jemaat dari berbagai kalangan dalam suasana doa, perenungan, dan kewaspadaan.
Kehadiran Wakil Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Daniel J. Kaigere, di Jemaat GKI PNIEL menjadi kebahagiaan tersendiri bagi jemaat, sekaligus membuka rangkaian kegiatan dan memberikan penyegaran iman kepada umat Tuhan.
Saat ditemui di lokasi ibadah, Ketua PHMJ GKI Jemaat PNIEL, Pdt. Yan Rumbewas, menyampaikan bahwa perayaan Pekabaran Injil bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, tetapi merupakan momentum iman untuk kembali mengingat sejarah keselamatan yang telah Allah kerjakan di Tanah Papua sejak Injil pertama kali masuk pada 5 Februari di Pulau Mansinam.
“Pada tanggal 5 Februari Injil masuk di Pulau Mansinam. Injil telah hadir dan tinggal di Tanah Papua. Para misionaris datang dengan penuh ketulusan, tidak membawa harta, kekayaan, atau kepentingan duniawi, tetapi hanya membawa Injil untuk orang asli Papua dengan nama Tuhan,” ungkap Pdt. Yan.
Ia menuturkan bahwa para misionaris menginjakkan kaki di Tanah Papua dengan iman dan pengorbanan besar. Mereka melayani masyarakat Papua dengan tulus ikhlas, hidup bersama rakyat, serta membawa terang Injil di tengah keterbatasan dan tantangan berat yang dihadapi saat itu.
“Tanah Papua dahulu dikenal sebagai Pulau Risiko. Tanah yang hidup dalam kegelapan, konflik, peperangan antar suku, dan berbagai persoalan sosial. Namun para misionaris datang dengan iman, percaya bahwa Injil dapat menyelamatkan dan mengubahkan kehidupan orang Papua,” jelasnya.
Menurut Pdt. Yan, setelah Injil diberitakan, perubahan mulai terjadi. Pendidikan perlahan berkembang, sekolah-sekolah mulai dibuka, dan kehidupan masyarakat mengalami transformasi. Injil menjadi dasar lahirnya peradaban baru yang membentuk nilai, karakter, dan iman orang Papua hingga saat ini.

“Tanah ini telah diberkati oleh Injil. Sejak Injil masuk, terang itu bekerja dan membangun kehidupan orang Papua,” katanya.
Lebih lanjut, Pdt. Yan menyampaikan bahwa perayaan HUT Pekabaran Injil ke-171 tahun memiliki makna rohani yang sangat dalam bagi umat Kristen di Timika, khususnya di wilayah Amungsa. Ia mengajak seluruh umat untuk terus memelihara persatuan dan bekerja sama dengan pemerintah daerah, gereja, serta unsur adat dan budaya dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.
“Kami mengajak umat Kristen di Timika, khususnya di Puncak Amungsa, untuk bersatu padu membangun bersama pemerintah daerah. Gereja, adat, dan budaya harus berjalan bersama untuk memaknai pekabaran Injil secara utuh,” ujarnya.
Namun, Pdt. Yan juga mengungkapkan bahwa perayaan tahun ini dilaksanakan dalam suasana keprihatinan dan kewaspadaan. Situasi keamanan di Timika yang belum sepenuhnya kondusif, dengan maraknya aksi kriminal seperti begal, menjadi perhatian serius gereja dan umat.
“Dalam usia 171 tahun ini, kami merayakannya dengan penuh ketakutan dan kewaspadaan. Siang dan malam terjadi aksi begal. Banyak generasi gereja yang kehilangan harta benda bahkan kehilangan nyawa akibat peristiwa yang terjadi di Timika,” ungkapnya prihatin.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh gereja, tokoh perempuan, tokoh pemuda, dan tokoh adat, untuk mengambil peran aktif memberikan edukasi dan pembinaan, baik di lingkungan keluarga maupun di tempat-tempat ibadah.
“Kita harus bersatu, menjalankan peran kita masing-masing untuk memberi pendidikan moral dan rohani kepada generasi kita,” tegasnya.

Pada perayaan tahun ini, Sinode GKI di Tanah Papua menetapkan tema “Pertobatan Mendatangkan Keselamatan”. Menurut Pdt. Yan, tema tersebut menegaskan bahwa keselamatan hanya dapat diterima melalui pertobatan yang sejati.
“Pertobatan itu harus ada terlebih dahulu, barulah keselamatan itu datang. Tanpa pertobatan, keselamatan tidak akan kita terima. Ini pesan iman yang sangat penting bagi umat Tuhan,” jelasnya.
Selain itu, Gereja GKI di Tanah Papua juga menetapkan tahun 2026 sebagai Tahun Kepedulian, setelah sebelumnya memasuki Tahun Kesehatian. Dalam Tahun Kepedulian ini, gereja diharapkan semakin peka terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Kami peduli terhadap pelayanan, lingkungan, nyawa manusia, harta benda, martabat, dan hak setiap orang. Gereja harus bangkit dan berdiri di depan untuk melihat dan menyikapi realitas yang sedang terjadi,” kata Pdt. Yan.
Ia juga menekankan pentingnya peran gereja dalam membina generasi muda agar tetap setia pada nilai-nilai Injil di tengah arus perkembangan zaman yang terus berubah. Menurutnya, gereja harus hadir dan merangkul generasi muda, baik yang aktif maupun yang belum terlibat dalam pelayanan gereja.
“Generasi muda harus setia pada nilai-nilai Injil. Gereja harus mengajak mereka menjauhi miras, kekerasan, dan tindakan kriminal, serta membawa mereka masuk dalam kehidupan baru bersama Kristus,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Pdt. Yan mengajak seluruh umat di Timika, baik orang asli Papua maupun masyarakat pendatang, untuk bergandeng tangan membangun kebersamaan dalam semangat Tahun Kepedulian.
“Tahun ini adalah tahun kepedulian. Kita peduli terhadap siapa pun, baik orang Papua maupun pendatang, orang Maluku, Toraja, Batak, Jawa, Makassar, dan lainnya. Mari kita bangun Timika bersama-sama,” pungkasnya.
Perayaan HUT Pekabaran Injil ke-171 tahun di berbagai jemaat GKI di Tanah Papua dilaksanakan dengan waktu yang berbeda, ada yang pada pagi hari dan ada pula pada sore atau petang hari, menyesuaikan situasi dan kondisi keamanan di kabupaten Mimika. (SAN)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....