Hilal di Nabire Tak Terlihat, Tertutup Awan saat Pengamatan
- 19 Mar 2026 16:56 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire — Pemantauan hilal untuk menentukan awal 1 Syawal 1447 Hijriah di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, terkendala kondisi cuaca yang tidak bersahabat, Kamis 19 Maret 2026.
Sejak siang hingga menjelang waktu pengamatan, wilayah ufuk barat di Nabire tertutup awan tebal disertai gerimis. Kondisi ini membuat proses rukyatul hilal tidak dapat dilakukan secara optimal oleh tim pengamat.
Pengamatan hilal dilakukan oleh Kementerian Agama Kabupaten Nabire bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kegiatan ini merupakan bagian dari pemantauan serentak yang dilakukan di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nabire, Robert Wopwiri, mengatakan pihaknya tetap melaksanakan pengamatan meskipun kondisi cuaca kurang mendukung. Namun, hasil pemantauan dari daerah akan tetap dilaporkan sebagai bagian dari pertimbangan nasional.
“Saya sampaikan tetap mengacu kepada BMKG karena mereka yang punya alat teropong untuk melihat hilal. Nah, sore hari ini memang ada beberapa titik di Papua juga yang sementara juga melaksanakan hal yang sama,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemantauan hilal tidak hanya dilakukan di Nabire, tetapi juga di sejumlah wilayah lain di Papua, Papua Barat, hingga Merauke. Meski demikian, pihaknya tetap menunggu keputusan pemerintah pusat terkait penetapan awal 1 Syawal.
Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Nabire, George F.A. Muabuay, menjelaskan bahwa kondisi cuaca menjadi kendala utama dalam pengamatan hilal di wilayah tersebut.

Menurutnya, pengamatan sebenarnya telah dilakukan sejak siang hari. Namun, memasuki sore hari, hujan ringan dan awan tebal mulai menutupi ufuk barat, sehingga hilal tidak dapat diamati.
“Setelah jam 3 lebih sudah mulai turun gerimis dan cuaca berawan, terutama di ufuk barat itu sudah sangat berawan sekali. Sehingga memang dalam hal pengamatan itu sulit untuk dilakukan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki BMKG, posisi hilal di Nabire berada pada ketinggian sekitar 1,3 derajat dengan elongasi sekitar 4,5 derajat. Namun, kondisi tersebut tidak cukup untuk membantu pengamatan visual akibat tertutup awan.
Akibat cuaca yang semakin memburuk, pengamatan hilal di Nabire akhirnya dihentikan lebih awal.
Meski demikian, BMKG tetap melakukan pemantauan hilal secara nasional di berbagai titik di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Merauke, yang juga dapat dipantau melalui siaran langsung.
Hasil pemantauan dari berbagai daerah ini nantinya akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menetapkan awal 1 Syawal 1447 Hijriah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....