Lima Keputusan VAR Tuai Kontroversi di Fase Grup Piala Dunia 2026
- 29 Jun 2026 16:02 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Sejumlah keputusan wasit dan Video Assistant Referee (VAR) menjadi sorotan sepanjang fase grup Piala Dunia 2026. Beberapa keputusan dinilai kontroversial karena berdampak langsung pada hasil pertandingan, bahkan menggagalkan peluang tim untuk lolos ke babak gugur maupun meraih kemenangan penting.
Dilansir dari Al Jazeera, sedikitnya lima keputusan VAR dan wasit di lapangan menjadi perdebatan selama babak penyisihan grup. Insiden-insiden tersebut memicu protes dari pemain, pelatih, hingga federasi sepak bola karena dianggap memengaruhi jalannya pertandingan.
Kontroversi pertama terjadi saat Iran bermain imbang 1-1 melawan Mesir. Gol Shoja Khalilzadeh pada menit-menit akhir yang sempat membawa Iran ke ambang sejarah lolos ke fase gugur dianulir setelah VAR menyatakan sang pemain berada dalam posisi offside. Tayangan ulang menunjukkan keputusan tersebut ditentukan oleh selisih yang sangat tipis.
Insiden serupa terjadi pada laga Kolombia kontra Portugal. Davinson Sanchez sempat mencetak gol kemenangan melalui sundulan pada menit akhir pertandingan. Namun, gol tersebut dibatalkan karena hakim garis dan VAR menyatakan Sanchez berada dalam posisi offside hanya berdasarkan ujung kakinya.
Sementara itu, Ghana merasa dirugikan saat bermain imbang tanpa gol melawan Inggris. Pada menit ke-79, Prince Kwabena Adu dijatuhkan oleh Ezri Konsa di dalam kotak penalti. Wasit tidak memberikan hadiah penalti dan VAR juga tidak mengintervensi keputusan tersebut. Pelatih Ghana, Carlo Queiroz, bahkan menyindir dengan menyebut "VAR pergi minum kopi" usai pertandingan.
Kontroversi berikutnya muncul saat Brasil mengalahkan Skotlandia 3-0. Gol Vinicius Jr yang sempat menggandakan keunggulan Brasil dianulir setelah wasit meninjau ulang tayangan VAR dan menilai terjadi pelanggaran terhadap Jack Hendry. Keputusan itu memicu protes dari Federasi Sepak Bola Brasil (CBF), yang kemudian meminta FIFA menerapkan standar penggunaan VAR yang lebih konsisten.
Kasus terakhir terjadi dalam pertandingan Jerman melawan Ekuador. Gol Leroy Sane tetap disahkan meski kubu Ekuador menilai sebelumnya terjadi pelanggaran saat Aleksandar Pavlovic mengangkat kaki terlalu tinggi hingga mengenai kepala Pedro Vite. VAR tidak melakukan peninjauan sehingga gol tetap dinyatakan sah.
Rangkaian keputusan tersebut kembali memunculkan perdebatan mengenai konsistensi penerapan VAR di Piala Dunia 2026. Sejumlah pihak berharap FIFA melakukan evaluasi agar penggunaan teknologi tersebut dapat menghadirkan keputusan yang lebih adil dan konsisten pada fase-fase selanjutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....