Kemenkes Catat 10,6 Juta Penduduk Terdampak Karhutla
- 31 Agt 2026 21:01 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus memperkuat respons kesehatan terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat terdampak tetap memperoleh pelayanan kesehatan sekaligus terlindungi dari risiko akibat paparan asap.
Data dari Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI, yang disampaikan pada 28 Agustus 2026, mencatat Karhutla telah berdampak pada tujuh provinsi. Ketujuh provinsi tersebut yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
Berdasarkan Situation Report Kemenkes per 27 Agustus 2026, jumlah penduduk terdampak Karhutla mencapai 10.674.201 orang. Dari jumlah tersebut, 123 orang mengalami luka berat atau menjalani rawat inap dan dua orang mengalami luka ringan atau menjalani rawat jalan. Hingga laporan diperbarui, tidak tercatat korban meninggal maupun pengungsi.
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan Karhutla tidak hanya memberikan dampak terhadap lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap dan partikulat.
“Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap,” ujar Dante dalam media briefing di Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.

ISPA Jadi Gangguan Kesehatan Dominan
Gangguan saluran pernapasan menjadi salah satu dampak kesehatan yang paling banyak ditemukan. Data Kemenkes mencatat 4.082 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada 27 Agustus 2026, dengan jumlah kumulatif mencapai 13.449 kasus yang dilaporkan dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak.
Paparan asap Karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), hingga iritasi mata dan kulit. Dalam kondisi tertentu, paparan asap juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama bagi kelompok rentan.
Dante mengatakan anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan perlu mendapatkan perhatian khusus selama kondisi Karhutla.
Sejumlah Wilayah Alami Polusi Udara Tinggi
Kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak juga menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 27 Agustus 2026 pukul 16.26 WIB, beberapa daerah berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya dengan PM2.5 sebagai parameter kritis.
Pontianak, Kalimantan Barat, tercatat memiliki nilai ISPU 328 atau masuk kategori berbahaya. Sementara Kabupaten Tebo, Jambi, mencatat nilai 287, Barito Selatan 274, Katingan 258, dan Kabupaten Pali, Sumatera Selatan, 255 yang seluruhnya berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Untuk memperkuat pelayanan kesehatan, pemerintah daerah bersama Kemenkes telah memobilisasi 848 tenaga kesehatan hingga 27 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB. Tenaga tersebut terdiri atas dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, analis, tenaga farmasi, epidemiolog, sanitarian, serta tenaga pendukung lainnya.
Dukungan logistik juga terus dilakukan. Pemerintah daerah telah memobilisasi 394.385 masker, 56 unit oksigen konsentrator, 1.000 pasang sarung tangan medis, 103 tabung Oxycan, 40 dus pemberian makanan tambahan, 36 face shield, dan delapan alat pelindung diri.
Sementara itu, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes telah mendistribusikan 432.000 masker, 169 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang sarung tangan medis, 4.900 APD, serta tiga unit air purifier ke sejumlah wilayah terdampak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....