Wamenkes: PM2,5 Karhutla Berisiko Picu ISPA dan Asma
- 30 Agt 2026 21:00 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla tidak hanya menimbulkan persoalan lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat pencemaran udara, khususnya paparan partikel halus PM2,5.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan paparan PM2,5 dari karhutla dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA serta mencetuskan asma, terutama pada masyarakat yang memiliki kondisi tersebut.
Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 13.449 kasus ISPA secara kumulatif di wilayah terdampak karhutla selama Juli hingga Agustus 2026. Hingga 27 Agustus 2026, masih terdapat 4.082 kasus ISPA yang tercatat di wilayah terdampak.
Dante mengatakan paparan PM2,5 tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat memicu peradangan dan memengaruhi sistem inflamasi pada pembuluh darah.
“Karhutla ini kan berulang, timbul terus, hampir tiap tahun, dari beberapa tahun, lebih dari satu dekade ini selalu muncul di beberapa tempat. Dan ternyata teman-teman bisa lihat, tahun ini angka ISPA-nya lebih besar daripada angka ISPA tahun kemarin,” ujar Dante.
Menurut Dante, kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam kondisi pencemaran udara akibat karhutla antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma, serta masyarakat yang bekerja di luar ruangan.
Kemenkes mencatat karhutla telah berdampak pada tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota, dengan total populasi terdampak mencapai 5.419.467 orang. Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah juga masih berada pada level tidak sehat.
Dante menyebut berdasarkan pemantauan pada 27 Agustus 2026 pukul 16.25, kondisi kualitas udara paling berbahaya tercatat di Pontianak, Kalimantan Barat, dengan indeks kualitas udara lebih dari 300.
Sementara itu, Kemenkes telah mendistribusikan sekitar 5,3 juta masker ke sejumlah provinsi dan kabupaten/kota terdampak karhutla. Pemerintah juga menyiagakan tenaga kesehatan serta melakukan surveilans penyakit untuk memantau dampak karhutla terhadap masyarakat.
Selain itu, fasilitas kesehatan dan oksigen konsentrator disiapkan bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan. Pemantauan kesehatan dilakukan secara real time oleh dinas kesehatan di daerah terdampak untuk menentukan bentuk intervensi yang diperlukan.
Dante mengatakan peningkatan kasus ISPA pada 2026 perlu menjadi perhatian karena angkanya tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan mulai terlihat pada awal musim kemarau atau periode minggu ke-27 hingga minggu ke-33, bertepatan dengan meningkatnya kewaspadaan terhadap karhutla.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....