BMKG Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Potensi El Niño 2026
- 31 Jul 2026 13:07 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Fenomena iklim El Niño kembali menjadi perhatian pada 2026 seiring meningkatnya proyeksi terjadinya pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik. Sejumlah lembaga nasional maupun internasional memperkirakan kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola cuaca, produksi pangan, ketersediaan air, hingga kondisi perekonomian di berbagai negara.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, berdasarkan proyeksi terbaru World Economic Forum (WEF) yang dikutip pada 31 Juli 2026, peluang El Niño berkembang menjadi super El Niño pada akhir 2026 mencapai 81 persen. Sementara itu, peluang kondisi tersebut berlanjut hingga 2027 diproyeksikan mencapai 97 persen.
El Niño merupakan bagian dari fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Perubahan tersebut memengaruhi sirkulasi atmosfer sehingga dapat mengubah pola curah hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk meningkatkan risiko kekeringan, gelombang panas, hujan ekstrem, maupun banjir sesuai karakteristik masing-masing kawasan.
WEF menyebut El Niño tidak hanya berdampak pada aspek meteorologi, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai sektor lain seperti ketahanan pangan, energi, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, hingga rantai pasok global. Menurut WEF, dampak tersebut berpotensi lebih besar karena terjadi bersamaan dengan tren peningkatan suhu global akibat perubahan iklim.
Selain itu, laporan Reuters menyebutkan ekonom JPMorgan memperkirakan El Niño yang berkembang menjadi sangat kuat dapat meningkatkan inflasi pangan global sekitar 0,7 poin persentase. Apabila bersamaan dengan kenaikan harga energi akibat faktor geopolitik, inflasi pangan diperkirakan dapat meningkat hingga 1,3–1,5 persen dan memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi global pada 2027.
Negara berkembang, termasuk Indonesia, dinilai memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap dampak tersebut karena ketergantungan pada sektor pertanian serta tingginya proporsi pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan pangan. Kondisi ini menjadikan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan sebagai bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan.
Di dalam negeri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan El Niño. Dalam Pemutakhiran Prediksi Musim Kemarau 2026, BMKG memperkirakan sekitar 56,18 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau. Selain itu, hampir separuh wilayah diproyeksikan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi klimatologisnya.
BMKG juga memproyeksikan peluang terjadinya El Niño lemah mencapai 100 persen, El Niño moderat sebesar 98 persen, dan El Niño kuat sekitar 62 persen pada paruh kedua 2026. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air, gangguan produksi pertanian, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Sejalan dengan berbagai proyeksi tersebut, sejumlah lembaga iklim menilai pentingnya langkah mitigasi sejak dini untuk mengurangi dampak El Niño. Upaya tersebut meliputi pengelolaan sumber daya air, penguatan ketahanan pangan, antisipasi kebakaran hutan dan lahan, serta pengendalian dampak terhadap harga pangan agar risiko yang muncul dapat diminimalkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....