Harga Beras Asia Melonjak, Ancaman El Nino Jadi Sorotan

  • 31 Mei 2026 15:58 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Harga beras di kawasan Asia mencatat lonjakan bulanan terbesar dalam hampir dua dekade pada Mei 2026 dan diperkirakan masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Kenaikan harga dipicu oleh risiko cuaca ekstrem serta melonjaknya biaya energi dan pupuk akibat konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok global.

Melansir dari Bloomberg Technoz, harga beras putih Thailand yang menjadi patokan pasar Asia melonjak 20 persen sepanjang Mei. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar dalam satu bulan sejak pencatatan data dimulai pada 2008. Sementara itu, kontrak berjangka beras di Chicago Board of Trade juga meningkat 15 persen selama periode yang sama.

Analis komoditas BMI, unit dari Fitch Solutions, Bin Hui Ong, mengatakan harga beras masih cenderung bergerak naik. Menurutnya, potensi terjadinya El Nino yang dapat membawa cuaca lebih panas dan kering di sejumlah wilayah Asia berisiko mengganggu produksi dan mendorong harga semakin tinggi.

Kondisi tersebut diperparah oleh terganggunya pasokan bahan bakar dan pupuk akibat penutupan hampir total Selat Hormuz. Petani di berbagai negara Asia yang bergantung pada impor pupuk dan energi kini menghadapi kenaikan biaya produksi yang signifikan menjelang musim tanam utama.

Beras memiliki peran penting bagi ketahanan pangan kawasan Asia. Negara-negara seperti Thailand, Vietnam, dan India juga merupakan pemasok utama beras dunia sehingga gangguan produksi di kawasan ini dapat berdampak pada pasokan global.

Di Vietnam, sejumlah petani mulai mengurangi aktivitas tanam akibat tingginya biaya produksi. Seorang petani di Provinsi Vinh Long, Tran Van Be Bay, mengaku berencana melewatkan satu musim tanam karena harga pupuk yang terus meningkat dan kondisi cuaca yang semakin panas.

Menurut Institut Penelitian Beras Internasional, harga pupuk nitrogen di Thailand, Kamboja, dan Filipina telah melonjak sekitar 40 hingga 50 persen sejak konflik di Timur Tengah memanas. Meski cadangan pupuk masih tersedia dalam jangka pendek, risiko kekurangan pasokan dapat muncul jika distribusi global belum kembali normal.

Selain kebutuhan pupuk yang tinggi, produksi beras juga sangat bergantung pada penggunaan pompa irigasi berbahan bakar diesel. Kenaikan harga energi otomatis meningkatkan biaya operasional petani dan berpotensi mengurangi luas lahan yang ditanami.

Filipina bahkan telah memperingatkan bahwa El Nino yang kuat dapat memangkas produksi padi hingga 700 ribu ton atau sekitar 3,5 persen dari target produksi nasional tahun ini. Penurunan produksi tersebut dikhawatirkan dapat memperketat pasokan di pasar regional.

Meski demikian, sejumlah analis menilai kenaikan harga beras global masih berpeluang tertahan oleh stok yang relatif melimpah, terutama di India sebagai salah satu produsen terbesar dunia. Selain itu, permintaan global yang belum terlalu kuat juga diperkirakan dapat membantu meredam lonjakan harga dalam jangka pendek.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....