Konflik Timur Tengah Pangkas Produksi Minyak Pertamina

  • 26 Mei 2026 11:18 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - PT Pertamina Hulu Energi mencatat kehilangan potensi produksi minyak mentah sekitar 100.000 barel per hari akibat dampak konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada kuartal I tahun 2026.

Melansir dari Bloomberg Technoz, gangguan tersebut terjadi di Lapangan West Qurna, Irak, yang sempat menghentikan operasinya atas permintaan pemerintah Irak setelah konflik pecah di kawasan Timur Tengah.

Direktur Utama Pertamina Hulu Energi, Awang Lazuardi, mengatakan penghentian operasi tersebut berdampak langsung terhadap produksi minyak perusahaan di luar negeri.

“Beberapa hari setelah perang, Pemerintah Irak meminta lapangan tersebut harus dimatikan. Di situ kita kehilangan sekitar 100.000 barrel oil per day,” ujar Awang dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan produksi minyak di Lapangan West Qurna saat ini telah kembali diizinkan beroperasi. Namun, produksinya belum berjalan optimal dan masih berada di bawah 10 persen dari kapasitas normal.

Menurut Awang, produksi yang berjalan saat ini hanya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik Irak. Kondisi tersebut membuat kontribusi produksi internasional PHE masih belum kembali seperti sebelum konflik terjadi.

Selain menghadapi kendala di luar negeri, PHE juga mengalami gangguan produksi di dalam negeri, khususnya di Blok Rokan. Gangguan tersebut dipicu masalah integritas atau kebocoran pada pipa transportasi gas yang berlangsung lebih dari 20 hari.

“Itu yang menyebabkan rata-rata produksi minyak kita terutama di Rokan menurun cukup tajam,” kata Awang.

PHE juga menghadapi hambatan peningkatan produksi gas di wilayah kerja Banyu Urip yang merupakan bagian dari Blok Cepu di Jawa Timur. Wilayah kerja yang dikelola bersama ExxonMobil itu mengalami keterbatasan fasilitas produksi.

Akibat berbagai kendala tersebut, produksi minyak PHE hingga 3 April 2026 tercatat sebesar 475.000 barel per hari. Jumlah itu terdiri atas produksi domestik sebesar 367.000 barel per hari dan produksi internasional sebesar 109.000 barel per hari.

PHE juga mengungkapkan tantangan utama industri hulu migas nasional saat ini adalah penurunan produksi alamiah atau natural decline. Laju penurunan produksi mencapai sekitar 24 persen per tahun untuk minyak dan 21 persen per tahun untuk gas.

Untuk menjaga produksi, perusahaan menjalankan berbagai program operasi seperti pengeboran hampir 900 sumur pengembangan, sekitar 1.300 kegiatan workover, dan lebih dari 37.000 pekerjaan well intervention. Selain itu, PHE juga mengembangkan proyek eksplorasi baru serta peluang bisnis carbon capture and storage (CCS).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....