Perang Timur Tengah Picu Ancaman Kenaikan Harga Plastik

  • 31 Mar 2026 18:10 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Para ahli memperingatkan konsumen berpotensi menghadapi kenaikan harga berbagai produk berbahan plastik akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Produk seperti peralatan makan sekali pakai, minuman dalam botol, hingga kantong sampah diperkirakan menjadi barang yang pertama mengalami kenaikan harga.

Melansir dari CNN, kenaikan harga tersebut berkaitan dengan melonjaknya harga minyak bumi yang menjadi bahan baku utama plastik. Sejak perang dengan Iran pecah pada akhir Februari, harga minyak dilaporkan telah naik lebih dari 40 persen.

Profesor praktik rantai pasokan Universitas Syracuse, Patrick Penfield, menjelaskan bahwa plastik merupakan bagian penting dari berbagai rantai pasokan industri. Mulai dari proses pengemasan hingga manufaktur, penggunaan plastik membuat kenaikan biaya bahan baku dapat berdampak luas terhadap harga barang konsumsi.

Ekonom dari NYU Stern School of Business, Joseph Foudy, mengatakan konsumen sering kali tidak menyadari penyebab pasti kenaikan harga suatu produk. Menurutnya, kenaikan harga bisa berasal dari berbagai faktor seperti inflasi, biaya operasional, hingga peningkatan harga bahan baku.

Para ahli memperkirakan dampak kenaikan biaya pengemasan plastik terhadap harga makanan dapat mulai terasa dalam dua hingga empat bulan mendatang. Hal ini terjadi setelah perusahaan menghabiskan stok kemasan yang saat ini masih tersedia di gudang.

Kenaikan harga plastik juga dipicu oleh lonjakan harga minyak dan gas alam global, terutama akibat ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi dunia dan dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.

Data menunjukkan sejak konflik dimulai, harga minyak mentah sempat naik dari sekitar 67 dolar AS per barel menjadi lebih dari 98 dolar AS. Sementara itu, harga gas alam acuan di Asia dan Eropa dilaporkan melonjak lebih dari 60 persen dalam periode yang sama.

Lebih dari 99 persen plastik global diproduksi dari bahan bakar fosil, sehingga kenaikan harga energi secara langsung meningkatkan biaya produksi plastik. Bahan baku seperti polietilena dan polipropilena—dua jenis plastik yang paling banyak digunakan—ikut terdampak oleh lonjakan harga tersebut.

Para pakar menilai dalam jangka pendek perusahaan memiliki sedikit pilihan selain menyesuaikan desain kemasan atau menggunakan plastik yang lebih tipis untuk menekan biaya. Namun, jika harga energi tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan, konsumen kemungkinan harus menghadapi harga barang yang lebih mahal hingga satu atau dua tahun mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....