Kalangkala, Buah Hutan Terlupakan tapi Kaya Manfaat
- 21 Sep 2025 20:46 WIB
- Nabire
KBRN, Nabire: Buah kalangkala, yang juga dikenal dengan nama engkalak, malai, pangalaban, atau Litsea garciae, adalah buah hutan tropis yang dahulu cukup umum ditemui di Pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Namun, belakangan ini keberadaannya semakin langka dan mulai terlupakan oleh generasi muda. Meski demikian, buah ini menyimpan banyak keistimewaan dari segi rasa, kegunaan tradisional, hingga manfaat kesehatan. Berikut ulasan terkini tentang buah kalangkala.
Kalangkala adalah buah dari pohon Litsea garciae, anggota keluarga Lauraceae.
Pohon ini dapat tumbuh setinggi 10 sampai 26 meter dengan diameter batang hingga sekitar 60 cm. Daunnya berbentuk lanset hingga lonjong, dan pohonnya hidup liar di hutan tropis, terutama di daerah yang teduh sebagian, tepian sungai, atau di lereng bukit dengan ketinggian hingga sekitar 200 meter dari permukaan laut.
Buahnya berbentuk agak pipih atau bulat, ukurannya kecil sampai sedang. Kulit buah hijau pucat jika belum matang, kemudian berubah menjadi merah jambu hingga merah saat matang. Daging buahnya lembut, berwarna putih atau terkadang dengan semburat kehijauan.
Kalangkala dapat dikonsumsi langsung. Buah ini bisa dimakan mentah setelah sedikit dipukul atau digulung tangan agar rasa pahit atau getir berkurang. Ada pula cara merendam buah dalam air panas dan menambah sedikit garam untuk meningkatkan cita rasa.
Dalam beberapa daerah buah dikonsumsi sebagai “cakapan”, atau digabung dengan bumbu-bumbu seperti garam dan cabai rawit. Juga dijumpai dalam bentuk asinanan.
Selain itu kalangka juga digunakan untuk pengobatan tradisional. Berbagai bagian pohon kulit, daun, pucuk digunakan dalam ramuan untuk menyembuhkan luka, bisul, infeksi kulit, atau nyeri otot. Misalnya, suku Iban, Selako, dan Penan di Kalimantan menggunakan kulit pohon dan daun sebagai obat luar. Buah ini kerap digunakan sebagai bahan bukan pangan. Minyak dari biji buah kadang diekstraksi untuk membuat lilin dan sabun. Kayunya juga digunakan dalam konstruksi ringan.
Buah kalangkala adalah salah satu buah hutan Nusantara yang kaya sejarah, budaya, dan manfaat kesehatan. Namun, tanpa perhatian yang cukup, baik dari masyarakat, ilmuwan, maupun pemerintah buah ini berpotensi hilang dari wawasan publik. Mengangkat kembali kalangkala sebagai bagian dari kekayaan alam dan budaya lokal bisa memperkaya keanekaragaman pangan, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan peluang ekonomi lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....