Ucong, Buah Eksotik Belimbing Hutan dari Kalimantan
- 21 Sep 2025 20:37 WIB
- Nabire
KBRN, Nabire: Di antara kekayaan buah hutan Nusantara, salah satu yang mulai menarik perhatian adalah buah Ucong, yang juga dikenal dengan nama Belimbing Hutan, Belimbing Api, Belimbing Ucong, atau nama ilmiahnya Baccaurea angulata. Buah ini bukan hanya menarik dari segi rasa, tetapi juga kultur lokal, keanekaragaman hayati, dan potensi ekonomi. Berikut berita terkini mengenai buah Ucong.
Buah Ucong adalah tanaman asli Borneo, tumbuh liar di hutan primer, hutan sekunder, tepi sungai, dan dataran rendah hingga ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut.
Pohon Ucong dapat mencapai tinggi antara 6 sampai 21 meter, dengan batang (bole) sekitar 2 sampai 5meter sebelum cabang.
Daun pohonnya panjang, oval, permukaan halus; bunganya berwarna krem hingga kekuningan dan muncul di cabang serta batang.
Buahnya berbentuk seperti bersegmen lima bagian jika dilihat pada penampang melintang, dengan ukuran sekitar 5 sampai 6 cm panjang dan diameter 2,3-2,6 cm.
Warna buah saat belum matang adalah ungu gelap, lalu berubah menjadi merah cerah saat matang.
Kulit buah keras tetapi mudah dibuka. Di dalamnya terdapat biji-biji yang dikelilingi daging buah (arillode) yang putih, rasa buahnya manis-asam, dan banyak yang menyebut bahwa isinya mirip buah manggis karena tekstur yang lembut dan rasanya bersahaja.
Buah Ucong mengandung vitamin C, serat, serta mineral seperti kalsium, kalium, dan magnesium. Ini membuatnya bernilai baik sebagai buah yang menyegarkan sekaligus bergizi.
Secara budaya, buah Ucong sering dikonsumsi segar oleh masyarakat lokal, terutama saat musim buah tiba. Selain itu, kulit buah terkadang diproses menjadi jeruk (acar buah) karena rasa asam-manisnya yang khas.
Buah ucong adalah salah satu buah hutan Nusantara yang eksotik dan penuh potensi. Dengan rasa yang unik, menyerupai perpaduan manggis dan belimbing, serta kandungan gizi yang baik, buah ini berpeluang menjadi komoditas buah lokal yang semakin diminati. Namun agar manfaatnya maksimal, perlu dukungan dari literatur ilmiah, kegiatan konservasi, serta usaha pengolahan dan pemasaran yang lebih luas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....