Mulai Juli 2026, Materi Pencegahan Malaria Resmi Masuk Sekolah di Nabire
- 26 Jun 2026 23:10 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire – Pemerintah Kabupaten Nabire mulai memperkuat upaya pencegahan malaria melalui jalur pendidikan. Mulai tahun ajaran baru Juli 2026, materi edukasi malaria akan diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari TK hingga SMA/SMK.
Langkah tersebut merupakan kolaborasi Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Dinas Kesehatan, dan UNICEF sebagai respons terhadap tingginya kasus malaria pada anak usia sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Dra. Dina Pidjer, M.M., mengungkapkan berdasarkan data Dinas Kesehatan terdapat sekitar 900 kasus malaria pada usia sekolah. Kondisi itu dinilai memerlukan pendekatan edukasi yang sistematis agar peserta didik memahami bahaya malaria sekaligus mampu menerapkan perilaku hidup sehat.
Menurut Dina, integrasi pembelajaran malaria telah disepakati melalui tim perumus yang melibatkan unsur kurikulum setiap jenjang pendidikan, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), serta Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Nabire.
"Pada tahap awal seluruh satuan pendidikan akan menerapkan integrasi materi malaria ke dalam mata pelajaran yang telah disepakati. Selanjutnya muatan lokal kesehatan akan dikembangkan secara bertahap mencakup malaria, tuberkulosis, dan HIV/AIDS," jelasnya.
Dinas Pendidikan juga akan menerbitkan instruksi resmi kepada seluruh sekolah agar mulai menerapkan pembelajaran tersebut pada tahun ajaran baru Juli 2026. Buku pegangan dan bahan ajar telah disiapkan oleh Dinas Kesehatan untuk mendukung proses pembelajaran.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Elvina Agustina, menyebutkan sepanjang Januari hingga Juni 2026 tercatat 4.060 kasus positif malaria, dengan sekitar 900 kasus terjadi pada anak usia sekolah.
Menurutnya, edukasi sejak dini menjadi strategi penting agar siswa tidak hanya memahami cara melindungi diri dari malaria, tetapi juga mampu menjadi penyampai informasi bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Elvina mengingatkan malaria bukan penyakit yang dapat dianggap ringan. Selain dapat menyebabkan anemia dan pembesaran limpa, infeksi malaria juga berisiko menimbulkan gangguan pada otak, keguguran pada ibu hamil, hingga menurunkan kemampuan kognitif anak sehingga berdampak pada prestasi belajar.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari UNICEF. Health Officer UNICEF Wilayah Papua, Iswahyudi, menilai keberhasilan eliminasi malaria hanya dapat dicapai melalui kolaborasi lintas sektor, tidak hanya mengandalkan sektor kesehatan.
Ia menjelaskan berbagai penelitian menunjukkan infeksi malaria berulang dapat menyebabkan anak mengalami anemia, penurunan kemampuan berpikir, gangguan konsentrasi, meningkatnya angka ketidakhadiran di sekolah, hingga menurunkan prestasi belajar.
Karena itu, sekolah dinilai menjadi tempat strategis untuk menanamkan perilaku pencegahan malaria sejak usia dini. Program ini juga melengkapi langkah Pemerintah Kabupaten Nabire yang sebelumnya membentuk Tim Malaria Kampung sebagai bagian dari penguatan pengendalian malaria berbasis masyarakat.
UNICEF berharap implementasi pembelajaran malaria di sekolah didukung dengan peningkatan kapasitas guru, penyediaan materi ajar yang memadai, serta monitoring dan evaluasi secara berkala sehingga edukasi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Berdasarkan skema yang telah disusun, materi malaria akan disisipkan ke dalam sejumlah mata pelajaran sesuai jenjang pendidikan. Di tingkat SMA misalnya, materi diberikan melalui Biologi, Geografi, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Agama, hingga Prakarya dan Seni Budaya.
Sementara di tingkat SMP, SMK, dan SD, materi disesuaikan dengan karakteristik pembelajaran masing-masing, mulai dari pengenalan penyebab malaria, siklus hidup nyamuk Anopheles, pola hidup sehat, analisis data kasus, hingga pembuatan artikel, poster, dan proyek kreatif bertema pencegahan malaria.
Melalui kebijakan ini, Pemerintah Kabupaten Nabire berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga menjadi pusat edukasi kesehatan yang mampu melahirkan generasi sadar malaria serta berperan aktif mendukung target eliminasi malaria di Papua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....