Sejarah Singkat "Do–Re–Mi"

  • 20 Agt 2025 13:09 WIB
  •  Nabire

KBRN, Nabire: Musik adalah bahasa universal yang dapat dipahami oleh siapa saja, namun untuk bisa mempelajarinya diperlukan sebuah sistem yang memudahkan dalam membaca dan menghafal nada. Salah satu metode paling berpengaruh dalam sejarah musik adalah solmisasi, penggunaan suku kata do–re–mi–fa–sol–la–si/ti untuk mewakili nada. Sistem ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan panjang. Sejak abad pertengahan, ketika seorang biarawan bernama Guido d’Arezzo memperkenalkan konsep awalnya. Dari saat itu, solmisasi berkembang dan bertahan hingga kini sebagai dasar pembelajaran musik di seluruh dunia.

1. Siapa Penemu Solfège?

Ilmuwan musik Abad Pertengahan, Guido dari Arezzo (Guido d’Arezzo), seorang biarawan Benediktin yang hidup sekitar tahun 991–1033, adalah sosok kunci di balik evolusi sistem solmisasi serta notasi musik modern.

2. Asal Mula Silsilah: "Ut–Re–Mi–Fa–Sol–La"

Guido membentuk solfège berdasarkan sebuah nyanyian liturgi Latin, yakni Ut queant laxis, sebuah hymne kepada Yohanes Pembaptis. Setiap baris mulai dengan nada yang lebih tinggi dari baris sebelumnya, sehingga dia mengambil huruf pertama dari setiap baris sebagai nama nada: Ut, re, mi, fa, sol, la.

3. Evolusi Silsilah: Dari "Ut" ke "Do" dan Tambahan "Si/Ti"

Pada abad ke-17 di Italia, Giovanni Battista Doni mengganti "ut" menjadi "do", karena dianggap lebih mudah diucapkan dan juga merujuk pada "Dominus" (Tuhan), juga mirip dengan namanya sendiri. Selain itu, kemudian ditambahkan pula "si" (dari inisial Sancte Iohannes, ‘S’ dan ‘I’), sehingga membentuk skala diatonik lengkap: ut/re/mi/fa/sol/la/si.

Di negara-negara berbahasa Inggris, "si" kemudian berubah menjadi "ti" pada abad ke-19 oleh pendidik musik Sarah Glover agar setiap silsilah dimulai dengan konsonan berbeda.

4. Manfaat dan Relevansi Pedagogis

Guido merumuskan metode solmisasi supaya penyanyi dapat mengenali interval secara efektif dan cepat belajar lagu baru hanya dari notasi menyusutkan waktu pelatihan dari yang biasanya 10 tahun menjadi sekitar satu tahun, dengan menggunakan syllables yang terstruktur seperti ini, penyanyi mampu memindahkan (transpose) pola nada ke hexachord manapun secara intuitif.

Silsilah Do–Re–Mi–Fa–Sol–La (Si/Ti) berasal dari sistem pedagogis abad ke-11 yang dikembangkan oleh Guido d’Arezzo melalui nyanyian Ut queant laxis, sebagai metode menginternalisasi interval musik melalui syllables. Kemudian, berkembang dengan perubahan vokal (ut menjadi do) oleh Doni dan penambahan “si/ti” agar mencakup keseluruhan tangga nada diatonik. Sistem ini masih digunakan secara luas dalam pendidikan vokal dan teori musik hingga saat ini, sebagai fondasi penting dalam pembelajaran sight-singing.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....