Apa yang Membuat Tubuh Manusia Tidak Merasakan Sedih?

  • 18 Jun 2025 06:49 WIB
  •  Nabire

KBRN, Nabire: Kesedihan adalah emosi alami manusia yang muncul sebagai respons terhadap kehilangan, kekecewaan, atau perubahan yang mengecewakan. Namun, tubuh manusia memiliki mekanisme biologis dan psikologis untuk mengatur dan meredakan perasaan sedih. Mekanisme ini melibatkan sistem saraf, hormon, serta gaya hidup tertentu.

1. Hormon Kebahagiaan: Pengatur Emosi Alamiah

Tubuh manusia memproduksi sejumlah hormon yang dapat mengurangi atau menghambat rasa sedih:

a. Serotonin

Hormon serotonin berungsi sebagai pengatur suasana hati, tidur, dan nafsu makan. Ketika kadar serotonin cukup, suasana hati cenderung stabil dan rasa sedih berkurang. Hormon serotonin dapat ditingkatkan melalui paparan sinar matahari, olahraga, makanan seperti salmon, telur, dan kacang-kacangan.

b. Dopamin

Hormon Dopamin berfungsi untk memberikan rasa senang, motivasi, dan penghargaan. Rendahnya dopamin dikaitkan dengan gejala depresi dan anhedonia (tidak mampu merasakan senang).

c. Endorfin

Hormon Endorfin dikenal sebagai "penghilang rasa sakit alami”, dihasilkan saat tubuh mengalami aktivitas fisik intens seperti olahraga, tertawa, atau menangis. Endorfin bisa menimbulkan rasa nyaman dan mengurangi stres.

d. Oksitosin

Hormon Oksitosin dikenal sebagai “hormon pelukan” atau hormon kepercayaan. Hormon ini meningkat saat kita membentuk ikatan sosial, menyentuh orang lain, atau melakukan tindakan penuh kasih sayang.

2. Aktivitas Fisik dan Pola Hidup

Aktivitas fisik dan pola hidup sehat mampu meningkatkan keseimbangan kimia otak dan mengurangi rasa sedih, seperti olahraga rutin dapat meningkatkan endorfin dan serotonin, tidur yang cukup dapat mengatur hormon stres (kortisol) dan mood, asam amino triptofan (dari makanan) membantu produksi serotonin dan latihan pernapasan dan meditasi dapat mengurangi aktivitas sistem saraf simpatik (yang menimbulkan stres).

3. Koneksi Sosial dan Dukungan Emosional

Hubungan yang sehat dengan orang lain dapat menjadi "tameng" emosional terhadap kesedihan, seperti pelukan, mendengarkan, atau sekadar bersama orang yang dipercaya meningkatkan hormon oksitosin. Studi menunjukkan bahwa dukungan sosial menurunkan risiko depresi.

4. Pola Pikir dan Resiliensi Psikologis

Manusia memiliki kemampuan berpikir yang dapat "mengatur ulang" emosi, seperti cognitive reappraisal dapat mengubah cara memandang suatu peristiwa agar tidak terlalu menyakitkan, mindfulness membantu kita menerima emosi tanpa terlarut di dalamnya serta syukur (gratitude) dapat menurunkan gejala depresi dan meningkatkan kebahagiaan.

Tubuh manusia memiliki sistem alami yang membantu mengurangi rasa sedih, mulai dari hormon, aktivitas fisik, dukungan sosial, hingga kekuatan pola pikir. Meski kesedihan tidak bisa dihilangkan sepenuhnya karena merupakan bagian penting dari pengalaman manusia kita bisa mengelolanya agar tidak berlarut-larut.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....