World Space Week 2026: Revolusi Roket Ubah Akses ke Antariksa

  • 06 Okt 2026 21:10 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - World Space Week atau Pekan Antariksa Dunia 2026 mengangkat tema “Revolusi Roket”, yang menyoroti perubahan teknologi peluncuran dan berkembangnya industri antariksa komersial yang membuat akses manusia menuju orbit semakin beragam.

Dilansir dari Space.com, World Space Week 2026 berlangsung pada 4 hingga 10 Oktober. Perayaan global ini melibatkan badan antariksa, perusahaan, sekolah, museum, klub astronomi hingga masyarakat umum melalui berbagai kegiatan bertema antariksa.

Tema “Revolusi Roket” tidak hanya berbicara tentang roket yang semakin besar atau memiliki daya dorong lebih kuat. Perubahan penting justru terjadi pada cara kendaraan peluncur digunakan kembali, bagaimana muatan ditempatkan ke orbit, serta semakin banyaknya perusahaan swasta yang terlibat dalam aktivitas antariksa.

Selama puluhan tahun, roket pada umumnya dirancang untuk digunakan satu kali. Setelah membawa muatan menuju orbit, sebagian besar kendaraan tersebut tidak dapat kembali digunakan. Konsep roket yang dapat digunakan kembali kemudian mengubah cara industri melihat biaya dan frekuensi peluncuran.

Teknologi tersebut memungkinkan bagian tertentu dari kendaraan peluncur kembali ke Bumi untuk digunakan pada penerbangan berikutnya. Penggunaan kembali menjadi salah satu perkembangan yang berpotensi menekan biaya sekaligus meningkatkan frekuensi peluncuran ke luar angkasa.

Perubahan itu juga membuka peluang bagi semakin banyak pihak untuk mengirim satelit dan wahana ke orbit. Misi antariksa kini tidak hanya dilakukan untuk kepentingan penelitian ilmiah, tetapi juga mendukung komunikasi, navigasi, pemantauan cuaca, pengamatan Bumi hingga konektivitas.

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah Starship milik SpaceX. Dalam penerbangan uji coba pada 28 September 2026, kendaraan tersebut berhasil mencapai orbit dan membawa 26 satelit Starlink V3. Meski penerbangan kemudian berakhir lebih cepat akibat masalah pada mesin, pencapaian tersebut menjadi bagian dari pengembangan sistem peluncuran berukuran besar yang dirancang untuk dapat digunakan kembali.

Mengapa World Space Week Digelar pada 4-10 Oktober?

World Space Week memiliki kaitan dengan dua peristiwa penting dalam sejarah eksplorasi antariksa. Tanggal 4 Oktober memperingati peluncuran Sputnik 1 pada 1957, satelit buatan manusia pertama yang mengorbit Bumi.

Sementara itu, 10 Oktober berkaitan dengan penandatanganan Perjanjian Luar Angkasa pada 1967. Perjanjian tersebut menjadi salah satu dasar hukum internasional dalam mengatur eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa untuk tujuan damai.

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa kemudian menetapkan World Space Week sebagai perayaan tahunan pada 1999. Sejak saat itu, kegiatan tersebut berkembang menjadi perayaan global yang menghubungkan pendidikan, sains, teknologi dan eksplorasi antariksa.

Tidak Harus Punya Teleskop

Menariknya, perayaan World Space Week tidak selalu membutuhkan akses ke fasilitas antariksa atau peralatan canggih. Berbagai kegiatan dapat dilakukan melalui pengamatan langit malam, kegiatan edukasi, eksperimen roket sederhana hingga diskusi mengenai teknologi antariksa.

Pada World Space Week 2026, sejumlah fenomena langit juga dapat menjadi bagian dari pengalaman mengamati langit. Saturnus berada pada posisi oposisi pada 4 Oktober, disusul Bulan yang berada dekat Mars pada 5 Oktober dan dekat Jupiter pada 6 Oktober.

Hujan meteor Draconid juga diperkirakan mencapai puncaknya sekitar 8 hingga 9 Oktober. Sementara itu, Bulan Baru berlangsung pada 10 Oktober, yang dapat memberikan kondisi langit lebih gelap bagi pengamat untuk menikmati sejumlah objek langit.

Selain kegiatan pengamatan, World Space Week juga membawa misi pendidikan. Salah satunya melalui Rocket Revolution Toolkit yang dikembangkan melalui kerja sama World Space Week dengan Estes Education. Materinya dirancang untuk membantu siswa, keluarga dan klub mengeksplorasi ilmu serta teknik di balik roket.

Berbagai kegiatan World Space Week 2026 dijadwalkan berlangsung di sekitar 100 negara. Bentuknya beragam, mulai dari ceramah, pameran, kegiatan sekolah, pemutaran film, kegiatan astronomi hingga proyek STEM yang memungkinkan peserta mempelajari teknologi roket secara langsung.

Perayaan tersebut menunjukkan bahwa revolusi antariksa tidak hanya berlangsung di landasan peluncuran. Semakin banyaknya teknologi peluncuran, satelit dan perusahaan antariksa membuat ruang angkasa memiliki keterkaitan yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mulai dari informasi cuaca dan navigasi hingga komunikasi, pengamatan lingkungan dan penanggulangan bencana, berbagai layanan berbasis satelit telah menjadi bagian dari kehidupan modern. Karena itu, tema “Revolusi Roket” pada World Space Week 2026 juga menjadi pengingat bahwa perubahan teknologi di luar angkasa dapat membawa dampak langsung bagi kehidupan di Bumi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....