Sejarah Hari Donor Darah Sedunia, Berawal dari Penemuan Golongan Darah
- 14 Jun 2026 12:36 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Hari Donor Darah Sedunia diperingati setiap tahun pada 14 Juni sebagai bentuk penghargaan kepada jutaan sukarelawan pendonor darah di seluruh dunia yang secara rutin mendonorkan darahnya untuk membantu sesama. Peringatan ini diselenggarakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) bersama sejumlah organisasi kesehatan internasional lainnya.
Tanggal 14 Juni dipilih untuk menghormati hari kelahiran Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang dikenal sebagai penemu sistem golongan darah ABO. Penemuan tersebut menjadi tonggak penting dalam dunia kedokteran modern karena memungkinkan proses transfusi darah dilakukan dengan lebih aman dan efektif.
Sebelum penemuan Landsteiner pada awal abad ke-20, transfusi darah sering kali berakhir dengan kegagalan bahkan kematian akibat ketidakcocokan darah antara donor dan penerima. Berkat penelitiannya, dunia medis memahami bahwa darah manusia terbagi ke dalam beberapa golongan yang memiliki karakteristik berbeda. Atas jasanya tersebut, Karl Landsteiner menerima Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1930.
Hari Donor Darah Sedunia pertama kali diperingati secara global pada tahun 2004. Setahun kemudian, pada Sidang Kesehatan Dunia ke-58 tahun 2005, negara-negara anggota WHO secara resmi menetapkan 14 Juni sebagai Hari Donor Darah Sedunia. Sejak saat itu, peringatan ini menjadi agenda tahunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya donor darah sukarela dan teratur.
Setiap tahun, WHO mengusung tema berbeda yang menyoroti pentingnya memperluas jumlah pendonor darah sukarela. “One Drop of Humanity. Give Blood. Save Lives.” atau “Satu Tetes Kemanusiaan. Donasikan Darah. Selamatkan Nyawa.” , menempatkan kemanusiaan sebagai inti dari setiap donor darah. Kampanye ini mengingatkan kita bahwa setiap donasi lebih dari sekadar tindakan medis: ini adalah ekspresi kuat dari solidaritas, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama. Kampanye tersebut juga bertujuan mendorong pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat untuk memastikan ketersediaan stok darah yang aman dan cukup bagi seluruh warga.
WHO menilai ketersediaan darah yang aman merupakan bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan. Darah dan produk darah dibutuhkan untuk berbagai keperluan medis, mulai dari penanganan korban kecelakaan, operasi besar, komplikasi persalinan, hingga pengobatan pasien penyakit kronis seperti anemia berat, kanker, dan gangguan darah lainnya.
Peringatan Hari Donor Darah Sedunia menjadi pengingat bahwa tindakan sederhana berupa donor darah dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan orang lain. Para pendonor darah sukarela pun layak disebut sebagai pahlawan kemanusiaan karena kontribusinya membantu menyelamatkan jutaan nyawa di berbagai belahan dunia. (Falen Nelwan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....