WHO Batasi Penggunaan Obat Ebola, Fokus pada Uji Klinis

  • 31 Mei 2026 17:38 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar penggunaan obat-obatan yang tengah dikembangkan untuk mengobati dan mencegah infeksi virus Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda dibatasi hanya dalam kerangka uji klinis. Langkah ini diambil untuk memastikan keamanan dan efektivitas obat melalui data ilmiah yang kuat.

Dikutip dari Bloomberg Technoz, para penasihat WHO menilai pemberian obat-obatan eksperimental secara massal belum dapat dilakukan karena bukti efektivitasnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Oleh karena itu, penggunaan produk-produk tersebut disarankan hanya dalam penelitian yang terkontrol.

WHO menjelaskan pengembangan terapi Ebola menghadapi tantangan besar karena wabah penyakit ini muncul secara sporadis, sering terjadi di daerah terpencil, dan memiliki tingkat kematian yang tinggi. Kondisi tersebut membuat proses pengumpulan data klinis menjadi lebih sulit dibandingkan penyakit lainnya.

Sejumlah kandidat terapi yang dievaluasi berasal dari perusahaan bioteknologi dan farmasi, termasuk Mapp Biopharmaceutical Inc., Regeneron Pharmaceuticals Inc., serta Gilead Sciences Inc. WHO menilai produk-produk tersebut cukup menjanjikan untuk diprioritaskan dalam uji klinis.

Meski demikian, rekomendasi WHO berpotensi menimbulkan perbedaan pandangan. Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan berencana menyediakan terapi antibodi monoklonal bagi warga negaranya yang terinfeksi virus Ebola. Fasilitas pengobatan juga telah disiapkan di Kenya untuk menangani kasus paparan virus tersebut.

Regeneron menyatakan tengah mempercepat persiapan pasokan obat antibodi maftivimab yang akan digunakan dalam uji klinis mendatang. Perusahaan tersebut mengklaim obatnya menunjukkan aktivitas netralisasi yang luas terhadap strain Bundibugyo dalam studi laboratorium.

Selain terapi, WHO juga menyoroti pengembangan vaksin sebagai langkah pencegahan infeksi. Salah satu kandidat vaksin dikembangkan oleh International AIDS Vaccine Initiative, meski diperkirakan membutuhkan waktu tujuh hingga sembilan bulan sebelum siap memasuki tahap uji klinis.

Sementara itu, vaksin ChAdOx1 yang dikembangkan Universitas Oxford bersama Serum Institute of India dinilai memiliki potensi untuk diuji lebih cepat, yakni dalam waktu sekitar dua bulan. Namun, WHO menekankan perlunya tambahan data dari uji hewan sebelum proses tersebut dapat dimulai.

Saat ini, satu-satunya vaksin Ebola yang telah mendapatkan persetujuan adalah Ervebo dari Merck & Co. Namun vaksin tersebut ditujukan untuk strain Zaire, sedangkan efektivitasnya terhadap strain Bundibugyo yang kini beredar masih dianggap terbatas dan belum meyakinkan.

WHO berharap seluruh penelitian yang sedang berjalan dapat menghasilkan terapi dan vaksin yang aman serta efektif. Dengan pendekatan berbasis bukti ilmiah, organisasi kesehatan global itu ingin memastikan setiap intervensi medis terhadap Ebola dapat memberikan manfaat maksimal bagi pasien dan masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....