Konflik Timur Tengah Bisa Untungkan Tiga Sektor RI
- 31 Mei 2026 13:37 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dan potensi gangguan di Selat Hormuz diperkirakan membawa dampak besar terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Sebagai salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia, gangguan di kawasan tersebut dapat mendorong harga minyak mentah dan gas alam naik signifikan.
Melansir dari Bloomberg Technoz, lonjakan harga energi akibat ketegangan geopolitik berpotensi memberikan peluang bagi sejumlah sektor strategis Indonesia, terutama batu bara, minyak sawit, dan kendaraan listrik. Namun, manfaat tersebut juga dibayangi berbagai tantangan yang dapat membatasi dampak positifnya.
Sektor batu bara menjadi salah satu yang diperkirakan paling diuntungkan. Ketika pasokan gas alam cair (LNG) terganggu dan harganya melonjak, sejumlah negara cenderung beralih menggunakan batu bara sebagai sumber energi alternatif untuk pembangkit listrik.
Sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia, Indonesia berpeluang menikmati peningkatan permintaan dari negara-negara importir utama di Asia. Peningkatan ekspor ke Jepang dan beberapa negara Asia Tenggara bahkan mulai terlihat sejak awal tahun ini.
Meski demikian, peluang tersebut tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Kebijakan pemerintah yang mewajibkan ekspor batu bara termal dilakukan melalui badan usaha milik negara (BUMN) dinilai menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Kondisi itu dikhawatirkan dapat menghambat optimalisasi peningkatan ekspor dan penerimaan devisa.
Selain batu bara, sektor minyak sawit juga berpotensi mendapat manfaat dari kenaikan harga energi global. Pemerintah berencana meningkatkan mandatori biodiesel dari B40 menjadi B50 mulai Juli 2026 untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya menyatakan kebijakan B50 berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar fosil hingga 4 juta kiloliter per tahun. Peningkatan penggunaan biodiesel diperkirakan akan mendongkrak konsumsi minyak sawit domestik secara signifikan.
Namun, implementasi program tersebut masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan kapasitas produksi biodiesel nasional dan kenaikan harga metanol sebagai bahan baku utama. Faktor tersebut berpotensi menghambat realisasi target yang telah ditetapkan pemerintah.
Di sisi lain, industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) juga diperkirakan memperoleh keuntungan jangka pendek. Kenaikan harga bensin dan solar membuat biaya operasional kendaraan listrik menjadi lebih kompetitif dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.
Dukungan berbagai insentif pemerintah juga berpotensi meningkatkan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik. Namun, jika konflik berlangsung terlalu lama, perlambatan ekonomi global dan penurunan daya beli masyarakat justru dapat menekan penjualan kendaraan baru, termasuk kendaraan listrik.
Analis Bloomberg, Felix Kosasih, menilai besarnya manfaat yang dapat diraih Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan pelaku usaha dalam mengatasi berbagai kendala domestik. Mulai dari kebijakan ekspor, kapasitas produksi, hingga ketahanan rantai pasok menjadi faktor penting dalam memaksimalkan peluang tersebut.
Jika konflik Timur Tengah mereda dalam waktu relatif singkat, Indonesia berpotensi menikmati keuntungan dari kenaikan harga komoditas. Namun apabila ketegangan terus berlanjut, dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar dapat menjadi lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....