Cuaca Panas Picu Kekhawatiran Pasar LNG Global
- 27 Mei 2026 02:30 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Pasar gas global menghadapi tekanan baru di tengah terganggunya jalur distribusi energi akibat konflik di Timur Tengah. Para pelaku pasar kini menyoroti dua faktor utama yang dinilai dapat memengaruhi harga gas alam cair atau LNG dunia, yakni permintaan China dan cuaca panas ekstrem di Asia.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, prakiraan cuaca musim panas menunjukkan suhu di berbagai wilayah Asia akan lebih tinggi dari biasanya. Fenomena El Niño juga diperkirakan memperparah kondisi tersebut dan meningkatkan penggunaan pendingin ruangan serta kebutuhan listrik.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya permintaan LNG, terutama dari China sebagai pembeli LNG terbesar di dunia. Di sisi lain, konflik di Timur Tengah disebut telah menghambat sekitar seperlima pasokan LNG global.
Analis energi MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan dampak penuh penutupan Selat Hormuz belum sepenuhnya terasa karena saat ini masih berada pada periode permintaan energi yang relatif rendah.
“Dampak penuh penutupan Selat Hormuz belum terasa karena kita berada di musim sepi permintaan. Harga LNG bisa naik 50% lagi hingga Agustus jika Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup,” ujarnya.
Aliran LNG global kini mulai bergeser ke Asia karena pembeli di kawasan tersebut dinilai lebih berani membayar harga tinggi. Kondisi ini berbanding terbalik dengan beberapa waktu terakhir ketika Eropa banyak menyerap pasokan LNG global akibat berkurangnya gas pipa dari Rusia.
Data pelacakan kapal menunjukkan pengiriman LNG ke Eropa turun lebih dari 10 persen dibanding tahun lalu. Bahkan dalam dua pekan terakhir, sejumlah pengiriman LNG dari Amerika Serikat yang semula menuju Eropa dialihkan ke Asia.
Prakiraan cuaca juga menunjukkan Jepang, Korea Selatan, dan sebagian wilayah China akan mengalami suhu di atas normal selama musim panas tahun ini. Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan kebutuhan energi untuk pendingin ruangan dan pembangkit listrik.
Ahli strategi riset energi Citigroup Inc, Maggie Xueting Lin, menilai permintaan LNG China kemungkinan meningkat dalam beberapa bulan mendatang meskipun sektor industri negara tersebut masih menghadapi tekanan akibat lemahnya sektor properti.
Sementara itu, Wakil Presiden Senior Gas dan Listrik Equinor ASA, Helle Ostergaard Kristiansen, mengatakan kondisi pasar gas di Eropa saat ini sangat ketat dan semakin rentan jika konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama.
“Ada kekurangan gas fisik dan sulit untuk mengisi penyimpanan gas hingga tingkat yang dapat diterima untuk musim dingin mendatang. Dan setiap hari konflik ini berlanjut, situasinya menjadi semakin kritis,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....