Jutaan Warga AS Turun ke Jalan dalam Aksi “No Kings”

  • 30 Mar 2026 22:42 WIB
  •  Nabire

Sejumlah kota di Amerika Serikat dilanda gelombang demonstrasi besar bertajuk “No Kings”. Aksi ini merupakan bentuk penolakan terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin otoriter.

Aksi Serentak di Seluruh Negeri

Dilansir dari berbagai sumber demonstrasi berlangsung serentak pada 29 Maret 2026 waktu setempat. Menurut laporan AFP, sekitar 8 juta orang ikut serta dalam lebih dari 3.300 aksi yang tersebar di 50 negara bagian.

Aksi ini tidak hanya terjadi di kota besar seperti New York, tetapi juga menjangkau kota-kota kecil. Di New York, puluhan ribu orang berkumpul, termasuk aktor terkenal Robert De Niro yang dikenal sebagai kritikus keras Trump.

Suara Kekhawatiran Masyarakat

Para demonstran menyuarakan kekhawatiran terhadap kondisi demokrasi di AS. Mereka menilai konstitusi sedang terancam.

Di Atlanta, seorang veteran militer menyatakan bahwa negara tidak bisa berjalan tanpa persetujuan rakyat. Banyak peserta aksi merasa situasi politik saat ini tidak lagi normal.

Sementara di Washington, ribuan orang membawa spanduk bertuliskan tuntutan agar Trump mundur dan menyerukan perlawanan terhadap fasisme.

Aksi Meluas hingga ke Luar Negeri

Gelombang protes juga meluas ke berbagai kota di Eropa, seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma. Di Roma, sekitar 20 ribu orang ikut turun ke jalan dengan pengamanan ketat dari aparat.

Ketegangan dengan Pendukung Trump

Di beberapa lokasi, aksi sempat memanas. Di West Palm Beach, Florida, pendukung Trump terlibat adu mulut dengan massa demonstran. Polisi turun tangan untuk mencegah bentrokan lebih lanjut.

Pendukung Trump terlihat membawa atribut seperti topi, kaos, dan bendera kelompok Proud Boys.

Polisi Gunakan Gas Air Mata

Situasi memanas juga terjadi di Los Angeles. Polisi membubarkan massa dan menangkap sejumlah orang setelah demonstrasi berubah ricuh.

Aparat bahkan menggunakan gas air mata ketika sebagian demonstran menolak membubarkan diri dan memblokir jalan. Beberapa peserta aksi dilaporkan melempar benda ke arah polisi.

Gerakan yang Terus Membesar

Aksi “No Kings” bukan yang pertama. Sejak pertengahan 2025, gerakan ini terus berkembang sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan Trump.

Penyelenggara menyebut aksi kali ini sebagai salah satu protes terbesar dalam sejarah modern AS, dengan partisipasi jutaan orang di hampir seluruh wilayah negara.

Demonstrasi “No Kings” menunjukkan meningkatnya ketegangan politik di Amerika Serikat.

Di tengah perbedaan pandangan yang semakin tajam, aksi ini menjadi bukti bahwa partisipasi publik masih menjadi bagian penting dalam menjaga demokrasi.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....