China-Filipina Bahas Sengketa Laut dan Kerja Sama Energi

  • 30 Mar 2026 00:26 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Melansir dari Bloomberg Technoz, China dan Filipina kembali menggelar pembicaraan diplomatik guna meredakan ketegangan terkait sengketa wilayah di Laut China Selatan.

Pertemuan yang berlangsung selama dua hari di Quanzhou, Provinsi Fujian, China tersebut membahas berbagai isu strategis, mulai dari hubungan bilateral hingga dinamika kawasan.

Pemerintah China meminta Filipina untuk membantu menciptakan kondisi yang kondusif demi menstabilkan hubungan kedua negara di tengah situasi yang kompleks.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak melakukan pertukaran pandangan secara terbuka dan mendalam, termasuk terkait isu maritim yang selama ini menjadi sumber ketegangan.

Filipina melalui delegasinya menegaskan kembali posisi prinsipilnya serta menyampaikan kekhawatiran atas insiden yang berdampak pada keselamatan nelayan dan personelnya.

Meski demikian, kedua negara mencatat adanya kemajuan dalam langkah-langkah praktis untuk membangun kepercayaan di wilayah maritim.

China juga menyampaikan protes atas dugaan pelanggaran maritim oleh Filipina dan menyerukan penyelesaian melalui dialog serta konsultasi.

Di sisi lain, Dikutip dari Bloomberg Technoz, Filipina juga membuka peluang kerja sama dengan China, khususnya di sektor energi.

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., memberi sinyal untuk melanjutkan pembahasan proyek bersama minyak dan gas di wilayah sengketa.

Langkah ini dipicu oleh kebutuhan energi yang meningkat, terutama setelah gangguan pasokan global akibat konflik Iran.

Selain energi, Filipina juga tengah menjajaki kerja sama pasokan pupuk guna menjaga stabilitas sektor pertanian domestik.

Kedua negara turut membahas peluang kerja sama di bidang penegakan hukum maritim serta ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan.

China menyebut hubungan dengan negara-negara ASEAN tetap berkembang positif dan menekankan pentingnya komunikasi untuk menjaga stabilitas kawasan.

Di tengah ketegangan yang masih berlangsung, kedua pihak sepakat untuk mengedepankan dialog sebagai langkah utama dalam mengelola konflik sekaligus membuka peluang kerja sama di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....