Filipina dan Bangladesh Terdampak Perang Timur Tengah, Krisis Energi Mulai Terasa

  • 26 Mar 2026 12:58 WIB
  •  Nabire

RRI.co.id Nabire : Dampak konflik di Timur Tengah mulai dirasakan oleh sejumlah negara di Asia. Dua di antaranya adalah Filipina dan Bangladesh, yang kini menghadapi tekanan serius di sektor energi.

Presiden Ferdinand Marcos Jr. secara resmi menetapkan status darurat energi nasional di Filipina. Kebijakan ini diambil karena negara tersebut sangat bergantung pada impor minyak bumi.

Dalam pernyataannya, pemerintah menyebut bahwa langkah ini diperlukan untuk mengantisipasi gangguan pasokan energi global serta dampaknya terhadap perekonomian domestik.

Status darurat ini akan berlaku selama satu tahun dan memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk mengambil langkah cepat, termasuk meningkatkan pembelian bahan bakar minyak (BBM), bahkan dengan sistem pembayaran di muka jika diperlukan.

Pemerintah Filipina juga telah membentuk komite khusus untuk memastikan kelancaran pasokan dan distribusi berbagai kebutuhan penting, mulai dari bahan bakar, pangan, hingga obat-obatan.

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di Bangladesh. Negara tersebut mulai mengalami krisis BBM yang berdampak langsung pada masyarakat.

Di berbagai wilayah, antrean panjang terlihat di sejumlah SPBU. Warga bahkan harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. Situasi ini memicu kelelahan dan ketegangan di tengah masyarakat.

Berdasarkan keterangan asosiasi pemilik SPBU, pasokan BBM dari Bangladesh Petroleum Corporation tidak mencukupi jika dibandingkan dengan tingginya permintaan.

Kondisi ini semakin diperparah dengan minimnya pengamanan di lokasi SPBU. Bahkan dilaporkan terjadi insiden ancaman hingga pengambilan BBM secara paksa oleh warga tanpa pembayaran.

Situasi tersebut dinilai telah mencapai titik kritis. Para pemilik SPBU memperingatkan adanya kemungkinan penutupan operasional jika masalah keamanan dan pasokan tidak segera diatasi.

Konflik di Timur Tengah yang berdampak pada distribusi energi global kini menunjukkan efek berantai, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor minyak.

Pengamat menilai, jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin krisis energi akan meluas ke negara lain, termasuk di kawasan Asia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....