Hiu Gulper Terancam Punah Akibat Industri Kosmetik Global

  • 27 Nov 2025 21:40 WIB
  •  Nabire

KBRN, Nabire: Hiu laut dalam yang dikenal sebagai hiu gulper kini berada di ambang kepunahan akibat perburuan besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan industri kosmetik global. Spesies yang telah hidup selama jutaan tahun ini diburu demi minyak hati yang kaya akan senyawa squalene, bahan penting dalam produk perawatan kulit dan kecantikan.

Dilansir dari CNN, hiu gulper hidup di kedalaman 200 hingga 1.500 meter di berbagai perairan dunia. Dengan mata hijau cerah dan tubuh ramping, spesies ini masih menyimpan banyak misteri. Namun saat ini, sekitar tiga perempat populasi hiu gulper masuk kategori terancam punah akibat eksploitasi berlebihan.

Dana Internasional untuk Kesejahteraan Hewan mencatat minyak hati hiu digunakan dalam berbagai produk, mulai dari kosmetik, aftershave, tabir surya, hingga produk farmasi. Nilai ekonomi yang tinggi membuat perburuan terus meningkat meskipun risikonya terhadap kelestarian ekosistem laut sangat besar.

Harapan baru muncul lewat Konferensi Para Pihak ke-20 Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Liar yang Terancam Punah (CITES) yang digelar di Samarkand, Uzbekistan, pada 24 November–5 Desember. Dalam forum tersebut, diajukan usulan agar seluruh spesies hiu gulper dimasukkan ke dalam Lampiran II CITES, yang akan mengatur secara ketat perdagangan lintas negara.

Selama ini, spesies laut dalam relatif luput dari perhatian regulasi internasional. Padahal, tekanan penangkapan meningkat seiring kemajuan teknologi perikanan dan menipisnya stok ikan di perairan dangkal. Studi tahun 2024 dalam jurnal Science menunjukkan hampir dua pertiga hiu laut dalam yang terancam punah telah dimanfaatkan untuk produk minyak hati. Di beberapa wilayah, populasi hiu gulper bahkan anjlok lebih dari 80 persen.

Direktur kebijakan senior IFAW, Matt Collis, menyebut penurunan ini terjadi cepat dalam dua hingga tiga dekade terakhir. Ia menegaskan hiu gulper sangat rentan karena tumbuh lambat dan bereproduksi dalam jumlah kecil, sehingga pemulihan populasinya membutuhkan puluhan tahun.

Di sisi lain, industri squalene global bernilai besar. Data Grand View Research menunjukkan nilai pasar squalene dunia mencapai sekitar 150 juta dolar AS pada 2023. Meski sebagian besar squalene kini berasal dari tumbuhan, satu ton squalene dari hiu dapat membutuhkan sekitar 3.000 ekor hiu gulper.

Sejumlah perusahaan kosmetik global telah beralih ke squalene berbasis nabati. Merek kecantikan Biossance, misalnya, sejak 2016 menggunakan squalene dari tebu sebagai alternatif berkelanjutan. Namun, sebagian produk di pasar Asia masih ditemukan mengandung squalene berbasis hiu.

Collis menilai pengaturan perdagangan melalui CITES menjadi instrumen paling efektif untuk mencegah eksploitasi berlebihan. Aturan ini memungkinkan penangguhan perdagangan bagi negara yang tidak memenuhi standar keberlanjutan.

Contoh nyata terlihat di Maladewa, yang sempat melarang penangkapan hiu gulper setelah populasinya turun hingga 97 persen dalam 21 tahun. Meski demikian, dibukanya kembali aktivitas penangkapan menunjukkan pentingnya regulasi internasional yang mengikat.

Para pemerhati lingkungan berharap keputusan CITES kali ini menjadi langkah krusial dalam menyelamatkan hiu gulper dari kepunahan. Tanpa pengendalian perdagangan yang tegas, spesies purba penghuni laut dalam ini dikhawatirkan hanya akan tersisa dalam catatan sejarah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....