Kacamata Pintar Meta Melejit, Kekhawatiran Tetap Menghantui

  • 25 Nov 2025 22:10 WIB
  •  Nabire

KBRN, Nabire: Tren perangkat wearable memasuki babak baru menjelang musim liburan akhir tahun. Kacamata pintar Meta yang berkolaborasi dengan EssilorLuxottica kembali mencuri perhatian, terutama model terbaru “Meta Ray-Ban Display” yang kini hadir dengan tampilan visual di lensa dan kemampuan AI. Namun, di balik lonjakan minat tersebut, adopsi pasar luas masih berjalan pelan akibat kekhawatiran harga, privasi, hingga kenyamanan penggunaan.

Dilansir dari Reuters, penjualan kacamata pintar di Amerika Serikat (AS) tercatat naik tiga kali lipat pada 2025, menurut firma riset pasar Circana. Angka ini menandai kebangkitan pasar setelah kegagalan Google Glass satu dekade lalu. Namun analis menilai lonjakan tersebut masih didorong oleh kelompok early adopter, bukan pasar massal.

Musim liburan tahun ini diprediksi menjadi periode penjualan kacamata pintar terbesar, melampaui pengeluaran konsumen sebesar 52,6 juta dolar pada kuartal akhir 2024. Sejumlah raksasa teknologi seperti Apple dan Samsung bahkan disebut tengah menyiapkan perangkat serupa untuk menantang dominasi Meta.

Meski demikian, sebagian besar konsumen masih melihat teknologi ini sebagai produk yang belum matang. Seorang warga New York, John Paul Stewart, mengaku terkesan namun belum siap membeli.

“Saya tidak tahu seberapa nyamannya memakainya dalam jangka panjang. Rasanya saya harus menunggu satu generasi lagi,” ungkapnya.

Survei dari perusahaan riset dan intelijen pasar, CivicScience menunjukkan 25 persen masyarakat kini tertarik mencoba kacamata pintar, meningkat dibanding 20% di awal tahun. Namun analis teknologi Avi Greengart menegaskan bahwa adopsi massal masih jauh.

“Kita belum sampai di sana. Dalam jangka panjang, siapa tahu? Kita semua akan menjadi cyborg,” katanya.

Model terbaru Meta dijual seharga 799 dolar tanpa lensa resep, sementara versi standar Ray-Ban Meta yang lebih sederhana dibanderol 300-400 dolar. Produsen menyebut permintaan meningkat drastis sejak diluncurkan pada 2023, dan kapasitas produksi ditargetkan naik hingga 10 juta unit per tahun pada 2026.

Beberapa pengguna mengaku teknologi ini langsung terasa membantu. Seorang guru di San Antonio, Silvia Rendon, mengaku membeli kacamata dengan harga jauh lebih tinggi di eBay setelah semua stok habis.

“Akses bebas genggam ke AI benar-benar membantu saat mengajar,” ujarnya.

Namun kekhawatiran besar tetap muncul, terutama soal keamanan data dan kemungkinan penyalahgunaan pelacakan visual.

“Saya pikir ada potensi besar untuk menyalahgunakan teknologi ini,” kata calon pembeli Greg Dow.

Dengan momentum penjualan yang naik namun adopsi umum yang masih tertahan, masa depan kacamata pintar Meta kini bergantung pada satu pertanyaan penting: apakah teknologi ini siap menjadi perangkat arus utama, atau masih akan menjadi “gadget musim liburan” yang hanya diminati kalangan tertentu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....