Hotspot Karhutla Menurun, Kemenhut Terus Perkuat Penanganan
- 31 Agt 2026 21:14 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah prioritas, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Meskipun jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence menurun, operasi pemadaman dan pencegahan tetap dilakukan secara intensif.
Data dari Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan menyebutkan, berdasarkan data SiPongi yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga 30 Agustus 2026 pukul 21.02 WIB terdapat 946 hotspot high confidence secara nasional.
Jumlah tersebut turun 629 titik dibandingkan sehari sebelumnya. Hotspot terbanyak terdeteksi di Kalimantan Barat sebanyak 455 titik, disusul Kalimantan Tengah 308 titik, Sumatera Selatan 36 titik, Kalimantan Selatan 18 titik, dan Jambi satu titik. Sementara Riau tidak mencatat hotspot high confidence.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi titik panas berdasarkan penginderaan satelit dan tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran. Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi tetap membutuhkan verifikasi melalui pengecekan di lapangan.
Berdasarkan Laporan Ringkasan Operasi Dalkarhut per 30 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 93 laporan kejadian karhutla di 12 provinsi. Dari jumlah tersebut, 33 lokasi telah berhasil dipadamkan, sedangkan 60 lokasi lainnya masih dalam proses penanganan.
Penanganan terbanyak dilakukan di Kalimantan Tengah dengan 21 lokasi, kemudian Kalimantan Barat 16 lokasi, Sumatera Selatan 13 lokasi, Kalimantan Selatan 11 lokasi, Jambi sembilan lokasi, Riau delapan lokasi, dan Kalimantan Timur tujuh lokasi. Penanganan juga berlangsung di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tengah.
Secara kumulatif sepanjang 2026, tercatat 4.801 kali operasi penanganan karhutla dengan luas areal yang ditangani mencapai 38.829,46 hektare. Operasi dilakukan melalui pemadaman darat, water bombing, patroli udara, ground check, serta kegiatan pencegahan dan pengendalian.
Operasi tersebut melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya. Dukungan operasi udara diperkuat dengan 30 helikopter di Kalimantan dan 22 helikopter di Sumatera untuk mendukung water bombing dan patroli udara.
Selain pemadaman, Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC juga terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung penanganan karhutla sekaligus membantu mengurangi risiko kebakaran yang masih berlangsung.
Asap Ganggu Kualitas Udara dan Jarak Pandang
Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak masih menjadi perhatian. Laporan operasi menunjukkan kualitas udara di beberapa titik pemantauan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan berada pada kategori Sedang hingga Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, bahkan Berbahaya.
Dampak asap juga terlihat pada jarak pandang di sejumlah bandara. Pada 31 Agustus 2026 pagi, Bandara Supadio Pontianak tercatat berasap dengan jarak pandang 1,3 kilometer pada pukul 08.00 WIB. Sementara Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya mencatat jarak pandang 1,5 kilometer dalam kondisi berasap pada waktu yang sama.
Di Sumatera, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang empat kilometer pada pukul 07.30 WIB. Bandara Sultan Thaha Jambi memiliki jarak pandang lima kilometer pada pukul 08.00 WIB, sedangkan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin mencatat jarak pandang tiga kilometer pada pukul 09.00 WITA.
Kementerian Kehutanan menegaskan penurunan jumlah hotspot belum berarti risiko karhutla telah berakhir. Pemantauan dan operasi lapangan tetap diperkuat, terutama di wilayah yang masih terdapat kebakaran aktif maupun kawasan yang mulai terdampak asap dan penurunan jarak pandang.
Masyarakat di wilayah terdampak asap diimbau mengikuti informasi resmi pemerintah dan BMKG, menjaga kesehatan, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk. Masyarakat juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Apabila menemukan asap atau indikasi kebakaran, masyarakat dapat segera melaporkannya kepada Posko Karhutla Kementerian Kehutanan melalui layanan pengaduan resmi yang telah disediakan. Langkah cepat masyarakat diharapkan dapat membantu mempercepat penanganan dan mencegah meluasnya kebakaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....