Dari Mikrofon Sederhana, Nacita Menyuarakan Mimpi

  • 07 Agt 2026 19:24 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Mimika - Senyum manis dengan lesung pipi yang menghiasi wajahnya tak pernah lepas ketika menyambut siapa pun yang datang. Rambut ikalnya tergerai rapi, dipadukan kaus hitam dan celana jins sederhana. Dari bangku rumahnya di Timika, Papua Tengah, bocah perempuan itu tampak seperti anak-anak seusianya. Namun dibalik penampilannya yang sederhana, tersimpan bakat luar biasa yang mulai dikenal hingga luar Papua.Jumat 7 agustus 2026.

Namanya Natica Veleope Varianosa, yang akrab disapa Nacita. Ia duduk di bangku kelas VI SD Inpres Koperapoka I Timika. Lahir dari keluarga sederhana yang harmonis, Nacita merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, berdarah Maumere dan Kei. Sejak kecil, ia lebih banyak tinggal bersama oma tercinta yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

Tidak banyak yang menyangka, kecintaannya terhadap musik rap sudah tumbuh sejak usia tiga tahun.

"Lagu pertama yang saya suka itu judulnya Ado Sio dari Arivian Sandi, salah satu rapper Papua. Saya sering dengar lagu itu sampai semangat untuk bernyanyi," tutur Nacita sambil tersenyum.

Bakat itu tidak muncul begitu saja. Sang ayah bersama para pamannya menjadi orang pertama yang memperkenalkannya pada dunia hip-hop.

"Yang pertama ajarkan saya nyanyi itu bapak sama om-om," ujarnya polos.

Awalnya, Nacita hanya bernyanyi di rumah. Namun perlahan keberaniannya tumbuh hingga mulai tampil di berbagai panggung di Timika. Penampilan perdananya berlangsung di kawasan Eme Neme Yauware dan kemudian di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Mimika saat usianya baru menginjak delapan hingga sembilan tahun.

Lagu pertama yang ia bawakan berjudul Nacita Versus Everybody, sebuah lagu ciptaan sang ayah. Lagu itu kemudian viral di media sosial dan menjadi titik awal perjalanan musiknya.

Kini Nacita telah memiliki sedikitnya lima lagu orisinal, di antaranya Nacita Versus Everybody dan The Party. Dalam setiap penampilannya, ia tampil penuh percaya diri, jauh berbeda dengan kesehariannya di sekolah yang dikenal sebagai anak pendiam.

Selain bernyanyi, Nacita juga gemar membaca buku dan mengikuti kegiatan fashion show. Meski begitu, musik rap tetap menjadi dunia yang paling ia cintai.

"Kalau selain nyanyi saya suka membaca buku dan ikut fashion show, tapi saya lebih suka menyanyi," katanya.

Di balik panggung-panggung yang mulai membesarkan namanya, ada sosok ayah yang selalu berada di belakang layar. Daniel Doni Nosi atau yang dikenal di komunitas hip-hop dengan nama panggung Double D bukan hanya seorang ayah, tetapi juga produser, pencipta lagu, sekaligus pelatih bagi putrinya.

Melihat bakat sang anak sejak kecil, Daniel mulai menulis lagu khusus untuk Nacita. Ia tak menyangka putrinya mampu menghafal lirik hanya dalam beberapa kali mendengarkan.

"Kita kasih latihan satu dua kali, dia langsung tangkap. Daya ingatnya memang sangat bagus," ungkap Daniel.

Di rumah sederhana mereka, sebuah ruangan kecil disulap menjadi studio rekaman. Tidak ada peralatan mewah seperti studio profesional. Hanya komputer, mikrofon, perangkat rekaman sederhana, dan aplikasi musik yang dibeli sedikit demi sedikit sesuai kemampuan keluarga. Namun dari ruangan sederhana itulah lahir karya-karya yang membawa nama Nacita dikenal lebih luas.

Sang ibu mengaku seluruh proses perjalanan putrinya dilakukan secara mandiri. Ia merangkap sebagai manajer, penata rias, hingga bendahara. Sementara sang ayah menjadi produser dan pencipta lagu.

"Kami hanya ingin mendukung apa yang positif. Sekolah tetap nomor satu. Kalau ada jadwal tampil, kami selalu koordinasi dengan pihak sekolah," katanya.

Dukungan keluarga berbuah manis. Nacita pernah menjuarai tantangan freestyle rap yang diadakan terkait film Kaka Boss, menjadi satu-satunya peserta anak-anak yang keluar sebagai juara. Video penampilannya bahkan ditonton lebih dari 2,2 juta kali. Prestasi lain pun terus berdatangan. Ia meraih Juara I tingkat Papua dalam lomba solo vokal BPMP Papua, Juara Harapan II FLS3N, serta berbagai penghargaan dari lomba fashion show dan kompetisi seni lainnya. Panggung demi panggung mulai ia jelajahi. Tidak hanya di Timika, tetapi juga Maluku Tenggara. Dalam waktu dekat, Nacita dijadwalkan tampil di Batam untuk mempromosikan budaya dan produk unggulan Kabupaten Mimika melalui lagu hip-hop bernuansa etnik yang sedang dipersiapkan sang ayah bersama pamannya.

Kolaborasi internasional pun pernah datang menghampiri. Seorang DJ asal Kamboja menghubungi keluarga Nacita melalui media sosial dan mengajak bekerja sama dalam sebuah proyek musik. Seluruh proses produksi ditanggung pihak kolaborator. Lagu tersebut bahkan diputar di sejumlah komunitas dan klub musik di Kamboja. Meski peluang terus berdatangan, kedua orang tuanya memilih tetap mendampingi Nacita dan belum mengizinkannya bergabung dengan label musik.

"Dia masih anak-anak. Kami ingin dia tetap fokus sekolah sambil terus berkarya. Semua yang positif akan kami dukung," kata sang ayah.

Bagi Nacita sendiri, semua pencapaian itu bukanlah akhir perjalanan. Ia masih memiliki mimpi sederhana.

"Saya ingin sukses supaya bisa membanggakan mama, bapak, oma, dan keluarga," ucapnya.

Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Oma yang selama ini merawat Nacita masih mengingat momen ketika cucunya memenangkan hadiah dari hasil bernyanyi.

"Dia bilang, 'Oma, kalau saya juara saya mau belikan Oma handphone.' Dan benar, hadiah pertamanya dipakai beli handphone untuk saya," kenang sang oma dengan mata berkaca-kaca.

Di dinding studio kecil itu berjajar piala dan piagam penghargaan. Semua menjadi saksi perjalanan seorang anak kecil yang berani bermimpi besar. Tak ada kemewahan di ruangan itu. Tak ada alat musik bernilai ratusan juta rupiah. Hanya semangat, doa keluarga, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Setiap hari, Nacita terus berlatih bersama ayah dan para pamannya. Dari studio sederhana di sudut Kota Timika, ia terus mengejar mimpinya, satu lirik demi satu lirik.

Sebab bagi Nacita, musik bukan sekadar hobi. Musik adalah jalan untuk membahagiakan kedua orang tua, membanggakan oma tercinta, membawa nama baik sekolah dan Kabupaten Mimika, serta membuktikan bahwa mimpi besar dapat lahir dari tempat yang paling sederhana.(Sandra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....