Wike Afrilia, dari Mencari Kerja hingga Menjadi Anak Basman

  • 06 Okt 2026 06:58 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Mappi - Malam sekitar pukul 19.00, Bapak Abi datang ke rumah Wike Afrilia membawa seekor ikan hasil tangkapannya. Ia tidak datang dengan uang. Ikan itu dibawanya ke rumah Wike Afrilia Pasang untuk ditukar dengan kebutuhan yang lebih sulit ia dapatkan di Basman: baterai untuk senter, beras, garam, penyedap rasa, dan minyak goreng. Bagi Abi, pertukaran itu bukan sekadar barter. Ia tahu ada pintu yang bisa diketuk ketika hasil dari sungai dan kebun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pemandangan semacam itu sudah menjadi bagian dari kehidupan Wike di Kampung Basman, Distrik Ti Zain, Kabupaten Mappi, Papua Selatan. Warga datang membawa ikan, sayuran, cabai, ubi-ubian atau apa pun yang mereka punya. Wike menerimanya, lalu memberikan kebutuhan yang mereka perlukan dari persediaan yang dimilikinya.

Wike, 33 tahun, bukan orang Basman. Ia berasal dari Walenrang, Palopo, Sulawesi Selatan. Sejak 2017 ia bekerja sebagai tenaga honorer, sebelum mengikuti seleksi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) pada 2024 dan kemudian bertugas sebagai Bidan Terampil di Basman. Hingga 2026, sembilan tahun telah ia lewati di kampung yang sebagian besar aktivitas warganya bergantung pada perahu, speed, atau ketinting.

Basman bukan tempat yang sejak awal ingin dituju Wike. Ia bahkan tidak pernah membayangkan akan bekerja di pedalaman Papua. “Sebenarnya saya, sih, tidak terpikirkan saya akan datang dan bekerja di tempat terpencil seperti ini,” katanya sembari menambahkan ia juga tidak pernah terpikirkan akan ke pelosok Papua, tapi mungkin nasib lah yang membawanya pedalam.

Datang Karena Mencari Pekerjaan

Jalan Wike menjadi bidan pun tidak sepenuhnya bermula dari pilihan yang ia rancang sendiri. Ia sebenarnya ingin masuk sekolah kedokteran, tetapi gagal dalam tes masuk. Kegagalan itu sempat membuatnya putus asa hingga mengatakan tidak ingin melanjutkan kuliah. Sang tante kemudian mendaftarkannya ke sekolah kebidanan. “Terpaksa saya lanjut kuliah,” ujar Wike.

Setelah menyelesaikan pendidikan kebidanan di Makassar, Wike tidak langsung berpikir tentang Papua. Ia melamar pekerjaan ke berbagai tempat di Makassar, mulai dari bank, rumah sakit, pabrik hingga Alfamart dan Alfamidi. Tidak satu pun lamaran itu membawanya mendapatkan pekerjaan. “Awalnya kan niat kerja di Makassar, pokoknya kerja apa saja yang penting halal,” katanya.

Ia kemudian mengikuti sepupunya ke Sorong untuk mencari pekerjaan. Enam bulan tinggal di sana tidak menghasilkan pekerjaan yang ia cari. Sampai seorang teman yang tinggal di Mappi memberitahunya tentang lowongan tenaga medis kebidanan untuk wilayah terpencil. Bagi Wike saat itu, tempat bukan lagi persoalan utama. Yang penting adalah mendapatkan pekerjaan.

Ia mengirimkan lamaran dan kemudian nekat datang ke Mappi. Dari Sorong ia terbang ke Timika, lalu melanjutkan perjalanan bersama sepupunya dalam kondisi hampir tanpa uang. Mereka menempuh perjalanan melalui darat dan perahu hingga akhirnya dibantu seorang perempuan asal Kei yang bekerja di Mappi. Mereka sempat tinggal di rumah perempuan itu sebelum akhirnya diantar menuju tempat tugas di Basman.

Ketika pertama kali tiba di Basman, Wike menangis. Ia datang bersama sepupunya yang juga bidan serta dua perawat laki-laki, satu dari Jayapura dan satu dari Nusa Tenggara Timur. Mereka menjadi pendatang pertama yang bertugas di kampung itu. Tidak ada jaringan telekomunikasi, tidak ada listrik PLN, dan hiburan yang tersedia bagi mereka pada masa awal hanyalah permainan di telepon seluler.

Namun kesedihan itu tidak berlangsung lama. Sehari setelah kedatangan mereka, warga mulai berdatangan. Mereka menyambut keempat tenaga kesehatan itu, mengajak berkenalan dan bahkan ingin menjadikan mereka anak angkat. Wike dan rekan-rekannya kemudian diajak ke gereja untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Di tempat yang semula membuatnya menangis, ia mulai menemukan keluarga baru.

Bertahan Karena Mereka Membutuhkan

Puskesmas Pembantu (Pustu) Basman melayani sekitar 70 kepala keluarga. Hanya ada dua tenaga kesehatan yang bertugas di sana, termasuk Wike. Fasilitasnya masih terbatas dan kampung belum terhubung listrik PLN sehingga Pustu mengandalkan generator. Untuk menuju fasilitas kesehatan yang lebih besar, warga harus menggunakan perahu, speed, atau ketinting.

Jarak bukan sekadar angka bagi warga Basman. Dari Pustu menuju puskesmas induk, perjalanan bisa sekitar satu jam menggunakan speed dan tiga jam dengan ketinting. Jika harus dirujuk ke rumah sakit di Kabupaten Mappi, perjalanan dapat berlangsung sejak pagi hingga malam.

Pelayanan di Pustu berlangsung 24 jam. Malam bukan berarti pintu pelayanan tertutup. Ketika ada warga datang untuk berobat, mereka tetap dilayani. Bahkan menjelang subuh, ketukan di pintu rumah dinas bisa menjadi tanda bahwa seorang perempuan sedang membutuhkan pertolongan untuk melahirkan.

Pada awalnya Wike bertahan karena pekerjaan itu ia butuhkan. Ia pernah ingin pulang, merindukan keluarga dan kehidupan yang lebih dekat dengan orang-orang yang dikenalnya. Namun ada alasan lain yang menahannya: ia menjadi salah satu penopang biaya pendidikan adik-adiknya yang masih kuliah.

Seiring waktu, alasan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih besar. Wike dan rekannya melihat sendiri betapa terbatasnya pelayanan dasar di Basman dan betapa besar ketergantungan warga terhadap mereka. “Disitulah kami berpikir bahwa kami bakalan tinggal di sini untuk membantu warga mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk membantu yang mau lahiran,” kata Wike.

Di situlah alasan Wike bertahan mulai menemukan bentuknya. Ia tidak datang ke Basman karena sejak awal memiliki cita-cita bekerja di daerah terpencil. Ia datang karena mencari pekerjaan, tetapi kemudian memilih tetap tinggal karena menyadari ada warga yang membutuhkan keberadaannya.

Malam, Perahu, dan Persalinan

Selama sembilan tahun bertugas, Wike telah membantu puluhan persalinan. Ia tidak menyebut jumlah pastinya. Baginya, setiap persalinan memiliki cerita sendiri, terutama ketika pertolongan harus diberikan dalam kondisi yang jauh dari fasilitas kesehatan dan sarana transportasi tidak selalu tersedia.

Suatu dini hari sekitar pukul 02.00, seorang suami membangunkannya karena istrinya melahirkan di rumah. Bayi pertama dari kehamilan kembar telah lahir, sementara bayi kedua belum. Masalah berikutnya bukan hanya persalinan, tetapi bagaimana membawa ibu tersebut ke fasilitas kesehatan ketika tidak ada perahu yang siap digunakan. Wike kemudian berkeliling mencari perahu milik warga sampai akhirnya menemukan satu yang dapat dipakai untuk merujuk pasien.

Pada kesempatan lain, sekitar pukul 01.00, ia harus merujuk seorang pasien menggunakan perahu tanpa atap. Hujan deras, badai dan petir menghadang perjalanan. Senter yang digunakan hampir tersambar petir sehingga mereka sempat mencari tempat berteduh di sebuah rumah “Befak” (rumah panggung tradisional khas suku Asmat di Papua, yang berfungsi sebagai rumah singgah atau tempat istirahat sementara bagi masyarakat) di pinggir kali sebelum melanjutkan perjalanan setelah hujan mereda. Mereka baru tiba di kabupaten ketika hari sudah pagi.

Yang paling ditakuti Wike bukan hanya jauhnya perjalanan. Ia khawatir jika seorang pasien mengalami pendarahan saat proses rujukan atau ketika stok obat tiba-tiba habis dalam keadaan darurat. Kekhawatiran lain adalah obat malaria, stoknya harus tetap ada, karena kasus malaria di Basman tergolong tinggi.

Pernah seorang balita dibawa ke Pustu dalam kondisi sekarat akibat malaria. Wike dan rekannya berusaha memberikan pertolongan, tetapi nyawa anak itu tidak tertolong. “Anak ini akhirnya meninggal persis di hadapan saya, itu kemudian membuat saya merasa sedih dan rasa gagal,” katanya.

Kematian itu memperlihatkan batas yang sering dihadapi Wike: keinginan menolong tidak selalu berjalan seiring dengan fasilitas yang tersedia. Ia dan rekannya hanya dua tenaga kesehatan, tetapi pekerjaan yang mereka hadapi bukan hanya urusan kebidanan. Mereka juga harus menangani berbagai keluhan kesehatan warga.

Wike tahu suatu hari ia dan rekannya mungkin tidak lagi berada di Basman. Namun justru itulah yang membuatnya khawatir. Ia menyebut Pustu tersebut pernah kosong selama sekitar sepuluh tahun dan ketika ada upaya mencari tenaga kesehatan pengganti, tidak ada yang bersedia karena letaknya sangat terpencil.

Ketika Bidan Menjadi Anak

Hubungan Wike dengan warga Basman akhirnya tidak lagi seperti hubungan antara petugas kesehatan dan pasien. Ia mengatakan warga telah dianggap sebagai keluarga, sementara warga menganggap dirinya dan rekan-rekannya sebagai anak. Perasaan itu tumbuh sejak mereka datang dan warga mengangkat mereka sebagai anak angkat.

Hampir setiap hari warga datang membawa apa yang mereka punya. Jika seseorang mendapatkan ikan besar, ikan itu bisa dipotong menjadi dua: sebagian untuk keluarga mereka dan sebagian untuk Wike. Sayur, ubi-ubian, ikan dan hasil kebun lain dibawa ke rumahnya tanpa banyak perhitungan.

Dari hubungan itulah barter tumbuh. Seorang warga pernah datang karena membutuhkan garam untuk memasak, tetapi tidak memiliki uang. Ia membawa sayur dan meminta Wike menerimanya. Wike memberikan garam. Pola yang sama kemudian berlangsung untuk beras, minyak goreng, mi instan dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Ia menyatakan bahwa beras, minyak goreng, gula dan sebagainya yang ia peroleh itu berasal dari kiriman teman-temannya yang peduli kepada warga Basman, sebagian lainnya berasal dari milik pribadi, untuk nantinya dibagikan kepada mereka yang datang untuk membarter.

Wike mengatakan ia menerima barter itu karena warga tidak selalu memiliki uang untuk berbelanja. “Karena memang murni hanya ingin membantu mereka, karena mereka tidak punya uang untuk belanja, sehingga satu-satunya cara yaitu untuk barter,” ujarnya.

Ia juga tidak membuat daftar siapa yang layak dibantu. Menurut Wike, setelah sembilan tahun tinggal di Basman, ia tahu hampir semua warga membutuhkan bantuan. Karena itu, apa pun yang mereka bawa akan diterimanya. Ia merasa tidak tega menolak orang yang telah berjalan jauh dari kebun atau tempat tinggal mereka hanya untuk datang ke rumahnya.

Bapak Abi adalah salah satu warga yang menjalani hubungan semacam itu. Ia membawa ikan untuk ditukar dengan baterai senter. Wike kemudian memberikan beberapa kebutuhan lain, seperti garam, penyedap rasa, minyak goreng dan beras. Abi hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut.

Bagi sebagian warga, kebaikan Wike bahkan dinilai melebihi apa yang mereka terima dari anak sendiri. Mama Batzeba dan Mama Gemi Kembohom pernah menyampaikan penilaian itu dalam salah satu video TikTok Wike. “Anak sendiri itu tidak biasa pikir ini baru, anak sendiri itu biasa dong hanya lihat-lihat dengan mata saja, tapi suster ini baik,” kata mereka, sebagaimana dikutip dalam konten tersebut.

Kamera yang Membawa Basman Keluar

Ketika jaringan internet mulai tersedia, Wike mulai membuat konten tentang kehidupan di Basman. Pada awalnya, isinya sederhana: bergoyang bersama anak-anak dan pemuda kampung. Kemudian ia merekam aktivitas pelayanan, perjalanan merujuk pasien, memasak bersama warga dan barter kebutuhan sehari-hari.

Ia tidak sedang mengejar jutaan pengikut. Sebelum membuat konten tentang Basman, pengikutnya hanya sekitar 8.000. Setelah kehidupan di kampung itu mulai ia ceritakan melalui media sosial, jumlahnya melonjak hingga jutaan. Kini TikTok-nya memiliki sekitar 4,6 juta pengikut, Instagram sekitar satu juta, dan Facebook sekitar 1,2 juta.

Video memasak bersama anak-anak Papua di pedalaman dan konten barter menjadi sebagian konten yang paling banyak mendapat respons. Salah satunya ditonton dan disukai jutaan orang. Bagi Wike, perhatian itu awalnya mengejutkan. Baru kemudian ia menyadari bahwa banyak orang ingin mengetahui kehidupan nyata masyarakat di pedalaman Papua.

“Alasan saya sederhana, yaitu kami ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana kehidupan kami di Papua, cuma ingin bercerita saja, ternyata banyak yang penasaran dan menjadi viral,” kata Wike.

Popularitas itu tidak mengubah cara Wike bekerja. Ia tetap melayani warga bersama rekannya, sementara media sosial ia gunakan sebagai ruang berbagi sekaligus hiburan. Dari konten-konten tersebut, bantuan dari orang luar juga mulai berdatangan untuk masyarakat Basman.

Ia pernah menerima komentar yang menyakitkan. Namun Wike memilih tidak menanggapinya. Ia mengatakan yang terpenting adalah apa yang dilakukan tidak merugikan warga Basman dan apa yang ditampilkan di kamera merupakan kehidupan yang benar-benar terjadi, bukan sesuatu yang diatur untuk kepentingan konten.

Ada satu batas yang tidak ia lewati. Wike tidak membuat konten tentang pasien yang dilayaninya karena ingin menjaga privasi dan karena hal itu bertentangan dengan kode etik profesinya. Kamera boleh merekam kehidupan Basman, tetapi tidak semua kehidupan di dalam Pustu harus menjadi tontonan.

Bagi Wike, tujuan membuat konten kini lebih besar daripada sekadar berbagi keseharian. Ia ingin orang di luar Basman melihat bagaimana masyarakat hidup dengan keterbatasan listrik, jaringan telekomunikasi, fasilitas dan bahkan transaksi uang. Ia berharap perhatian itu membuat pemerintah dan pihak lain lebih melihat kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil.

Apa Arti Wike bagi Basman?

Jutaan orang mengenal nama Wike melalui layar telepon. Mereka melihat perempuan yang memasak bersama anak-anak Papua, bertukar ikan dengan beras, menempuh sungai pada malam hari atau menjalani kehidupan di pedalaman. Tetapi bagi warga Basman, Wike bukan sekadar sosok yang muncul di layar.

Ia adalah orang yang pintunya bisa diketuk ketika seorang ibu hendak melahirkan menjelang subuh. Ia adalah orang yang tetap mencari perahu ketika pasien harus dirujuk, orang yang menerima hasil kebun warga ketika mereka tidak memiliki uang, dan orang yang selama bertahun-tahun hidup di tengah keterbatasan bersama mereka.

Karena itu, ketika ditanya apa yang paling ia khawatirkan jika suatu hari tidak lagi bertugas di Basman, jawaban Wike bukan tentang kehilangan jumlah pengikut atau popularitas. Ia justru memikirkan warga yang mungkin kehilangan tenaga kesehatan yang selama sembilan tahun telah melayani mereka.

“Kalaupun ada yang nantinya menggantikan kami, belum tentu mereka bisa sama seperti yang kita lakukan saat ini di Basman. Mudah-mudahan saja nanti mereka bisa merangkul semua mereka yang ada dan menganggap mereka adalah keluarga,” ucapnya.

Sembilan tahun di Basman juga mengubah cara Wike melihat kehidupannya sendiri. Ia mengatakan kampung itu mengajarinya sesuatu yang tidak diperoleh di bangku kuliah: makna kehidupan yang sesungguhnya, arti keluarga dan bagaimana manusia bertahan dalam kondisi yang serba terbatas.

Mungkin itu sebabnya ia tidak ingin warga Basman mengenalnya sebagai perempuan dengan jutaan pengikut. Ia ingin dikenang dengan cara yang jauh lebih sederhana.

“Saya sebenarnya berharap bahwa warga di sana tetap menganggap saya anak mereka, menganggap kami masih bagian dari keluarga mereka,” kata Wike. Ia masih mengingat ucapan warga kepadanya: “Cuma kamu, Wike, yang bisa mengerti kami di Basman.”

Di luar sana, jutaan orang mungkin mengenal Wike karena video-video yang memperlihatkan kehidupan Basman. Namun di kampung yang dikelilingi rawa dan sungai itu, ukuran kedekatan tidak dihitung dari jumlah pengikut. Ia dihitung dari pintu yang diketuk menjelang subuh, ikan yang dibelah dua untuk dibagikan, sayur yang dibawa pulang, dan perahu yang dicari ketika seseorang membutuhkan pertolongan.

Wike datang ke Basman karena mencari pekerjaan. Ia bertahan karena menemukan warga yang membutuhkan pelayanan. Dan setelah sembilan tahun, ketika jutaan orang mengenalnya melalui media sosial, ia justru ingin tetap menjadi sesuatu yang sederhana bagi mereka yang setiap hari hidup bersamanya: seorang anak yang pernah tinggal, bekerja, membantu, dan menjadi bagian dari keluarga Basman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....