Suara Roda Kris Belau

  • 07 Agt 2026 18:12 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Suara itu terdengar lebih dahulu daripada sosoknya.

Mula-mula lirih. Gesekan logam dengan aspal menghasilkan bunyi tipis yang, bila didengar dari kejauhan, menyerupai siulan burung. Irama itu datang perlahan menyusuri jalan utama di Kabupaten Nabire setiap sore. Tidak tergesa-gesa. Tidak pula lambat. Stabil. Seolah mengikuti napas lelaki yang menggerakkannya.

Di bawah langit yang masih cerah, sekitar pukul tiga sore, sebuah kursi roda tiga berwarna merah melaju di tepi jalan. Angin sesekali bertiup menerpa wajah lelaki yang duduk di atasnya. Tangannya bergantian mendorong roda, menjadi pengganti sepasang kaki yang tak lagi mampu membawanya berjalan sejak lebih dari lima puluh tahun silam.

Lelaki itu mengenakan topi flat cap abu-abu yang nyaris tak pernah lepas dari kepalanya. Kacamata berbingkai tipis bertengger di wajahnya yang menghitam karena matahari Papua. Kumisnya dicukur rapi. Di dagunya tumbuh janggut tipis yang mulai dipenuhi uban. Dari balik kaca matanya, sorot yang cerah memandang lurus ke depan. Sesekali ia mengangkat tangan menyapa pengendara yang melintas.

"Selamat sore, Pak Kris!"

Sapaan itu dibalas dengan senyum yang lebar. Senyum yang membuat kerutan halus di sudut matanya ikut mengembang.

Di Nabire, orang lebih mengenalnya sebagai Kris.

Nama lengkapnya Ignasius Belau.

Banyak orang mengenal Kris sebagai penjual pulsa. Sebagian mengenalnya sebagai atlet yang pernah mengharumkan nama Papua. Tetapi hanya sedikit yang mengetahui bahwa setiap putaran roda yang terdengar setiap sore bukan sekadar latihan menjaga kebugaran tubuh. Putaran-putaran itu adalah cara Kris merawat keyakinan bahwa hidup harus terus bergerak, sejauh apa pun jalan yang harus ditempuh.

Di rumah kontrakannya yang sederhana, kursi roda merah itu diparkir di teras ketika matahari mulai tenggelam. Warnanya mulai kusam di beberapa bagian. Ban depannya menyimpan bekas perjalanan yang panjang. Namun bagi Kris, kursi roda itu bukan sekadar alat bantu.

"Itu kaki saya," katanya suatu sore.

Kalimat itu meluncur singkat, tanpa nada dramatis. Seolah sedang menjelaskan sesuatu yang biasa.

Kalau rumah yang ditempatinya suatu hari terbakar dan ia hanya diberi waktu menyelamatkan satu benda, pilihannya sudah bulat.

"Kursi roda."

Bukan medali.

Bukan televisi.

Bukan telepon genggam.

Kursi roda itu.

Karena di atas benda itulah hampir seluruh hidupnya dijalani.

Page break

Anak yang Tak Pernah Belajar Berlari

Tidak ada yang menyangka kehidupan Ignasius Belau akan berubah bahkan sebelum ia benar-benar mengenal dunia.

Ketika anak-anak lain mulai berlari mengejar teman sepermainan, Kris baru belajar berdiri. Usianya sekitar dua tahun. Langkah-langkah kecilnya masih canggung. Ia belum sempat mengenal permainan kejar-kejaran. Belum pernah merasakan jatuh karena terlalu cepat berlari.

Lalu sakit itu datang.

Keluarga tidak pernah menduga bahwa sakit tersebut akan meninggalkan jejak seumur hidup. Setelah melewati masa perawatan, kedua kaki Kris tak lagi mampu menyangga tubuhnya.

Rumah sederhana keluarga Belau di SP A Kampung Wiraska, Distrik Wanggar, mendadak berubah sunyi.

Ibunya menangis.

Ayahnya lebih banyak diam.

Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana menghadapi kenyataan bahwa anak kecil yang baru belajar berjalan kini harus menjalani hidup tanpa bisa menggunakan kedua kakinya.

Mereka hanyalah keluarga petani.

Pagi-pagi berangkat ke kebun.

Menanam sayur.

Menanam umbi-umbian.

Mengandalkan hasil tanah untuk menghidupi anak-anak mereka.

Tetapi sejak hari itu, pekerjaan mereka bertambah.

Merawat Kris.

Bagi keluarga Belau, tak pernah terlintas untuk meninggalkan anak itu. Justru sebaliknya. Semua berusaha membuat Kris merasa tetap menjadi bagian utuh dari keluarga.

Adik perempuannya, Yosefa Joani, masih mengingat kakaknya sebagai anak yang ceria.

"Kakak itu selalu gembira," kenangnya.

Di mata Yosefa, Kris bukan anak yang banyak mengeluh. Ia lembut kepada orang tua. Menghormati ayah dan ibunya. Hubungannya dengan semua saudara dekat. Tidak ada jarak di antara mereka. Jika salah satu mengalami kesulitan, yang lain akan datang membantu.

Barangkali karena itulah rumah yang sempat dipenuhi kesedihan perlahan kembali menemukan bunyinya.

Suara mama yang memanggil anak-anak.

Suara ayah bersiap ke kebun.

Suara adik-adik bercanda.

Dan di tengah semuanya, Kris belajar menerima kenyataan yang tak pernah ia pilih.

Namun menerima bukan berarti tidak pernah terluka.

Page break

Satu Kilometer di Punggung Adik

Matahari belum terlalu tinggi ketika lonceng sekolah berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Sebagian berlari mengejar teman-temannya, sebagian lagi memanggul tas sambil bercanda di sepanjang jalan tanah menuju rumah.

Di antara keramaian itu, Ignasius Belau kecil hanya bisa menunggu.

Ia duduk diam di teras sekolah, memeluk tas lusuh yang selalu dibawanya setiap pagi. Pandangannya mengikuti teman-teman yang satu per satu menghilang di tikungan jalan. Tak ada langkah kecil yang bisa membawanya pulang secepat mereka.

Ia menunggu satu orang.

Yosefa.

Adik perempuannya.

Ketika Yosefa muncul dari ruang kelas, rutinitas itu kembali dimulai. Tas sekolah dipindahkan ke dada. Tubuh kakaknya perlahan dinaikkan ke punggung. Kedua tangan Kris melingkar di bahu adiknya, sementara Yosefa menahan beban tubuh sang kakak dengan sekuat tenaga.

Perjalanan pulang masih sekitar satu kilometer.

Jalannya belum beraspal. Ketika musim panas datang, debu beterbangan setiap kali orang melintas. Saat hujan turun, jalan itu berubah menjadi lumpur yang lengket di telapak kaki.

Hari itu hujan turun sejak siang.

Tanah menjadi licin.

Yosefa melangkah pelan, berusaha menjaga keseimbangan. Tubuh kakaknya terasa semakin berat seiring perjalanan. Kakinya beberapa kali terpeleset, tetapi ia terus berjalan.

Hingga akhirnya...

Bruk!

Tubuh mereka terjatuh ke sisi jalan.

Kris terlepas dari gendongan dan terguling masuk ke dalam parit kecil yang dipenuhi lumpur. Seragam sekolahnya seketika berubah cokelat. Tasnya ikut terendam. Yosefa yang masih kecil hanya bisa terduduk di pinggir parit sambil menangis.

"Aduh... Kakak..."

Tangis itu pecah di tengah jalan yang lengang.

Kris tidak marah.

Ia justru mencoba menenangkan adiknya meski tubuhnya sendiri berlumur lumpur.

Tak lama kemudian, beberapa teman sekolah menghampiri. Seorang guru yang kebetulan melintas dengan sepeda motor segera menghentikan kendaraannya. Ia mengangkat tubuh Kris keluar dari parit, membersihkan lumpur yang menempel di bajunya sebisanya, lalu mengantar keduanya pulang.

Sesampainya di rumah, sang ibu terdiam.

Melihat tubuh anak sulungnya dipenuhi lumpur adalah pemandangan yang selalu menyayat hati. Namun lebih menyakitkan lagi adalah menyadari bahwa kejadian seperti itu bukan sekali dua kali terjadi.

Begitulah kehidupan mereka.

Esok hari, Yosefa tetap menggendong kakaknya lagi.

Lusa pun begitu.

Berbulan-bulan.

Bertahun-tahun.

"Buat kami, itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," kenangnya kemudian. "Kakak tidak pernah mengeluh."

Kalimat itu sederhana.

Tetapi di sanalah keluarga Belau menemukan arti kasih yang sesungguhnya.

Page break

Rumah yang Selalu Menyisakan Harapan

Rumah keluarga Belau di Kampung Wiraska bukan rumah besar.

Dindingnya sederhana. Halamannya menghadap kebun. Di kejauhan terdengar suara ayam bersahutan, anak-anak bermain, sesekali tangis balita memecah sore. Dari rumah tetangga, lagu-lagu rohani kadang terdengar mengalun pelan, bercampur dengan suara orang-orang tua yang berbincang di beranda.

Di rumah itulah Kris dibesarkan.

Ayah dan ibunya bukan pegawai negeri. Mereka juga bukan pedagang.

Mereka petani.

Setiap pagi sebelum matahari tinggi, keduanya sudah berangkat ke kebun. Menanam ubi, singkong, keladi, dan berbagai sayuran yang menjadi sumber penghidupan keluarga.

Tidak banyak yang mereka miliki.

Tetapi mereka selalu berusaha memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa kurang kasih sayang.

Yosefa masih mengingat bagaimana ibunya hampir tak pernah membiarkan Kris merasa sendiri.

"Hati-hati, Nak. Jangan sembarang jalan."

Kalimat itu begitu sering diucapkan sang ibu sehingga melekat di ingatan Kris hingga hari ini.

Bukan larangan.

Bukan kekhawatiran semata.

Tetapi doa.

Setiap kali Kris keluar rumah, kalimat itu selalu mengiringinya.

Bagi seorang ibu yang melihat anaknya kehilangan kemampuan berjalan sejak usia dua tahun, dunia di luar rumah selalu tampak lebih berbahaya.

Namun sang ibu tidak pernah mengurung anaknya.

Ia justru mengajarkan keberanian.

Mengizinkan Kris bersekolah.

Membiarkannya berteman.

Memberinya ruang untuk tumbuh.

Karena ia percaya, kasih sayang tidak boleh berubah menjadi belenggu.

Air Mata yang Tak Pernah Diperlihatkan

Di hadapan keluarga, Kris dikenal sebagai anak yang ceria.

Ia mudah tersenyum.

Tidak banyak mengeluh.

Selalu berusaha menyelesaikan kesulitannya sendiri.

Tetapi ada satu masa yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Masa ketika ia mulai memahami bahwa dirinya berbeda.

Semakin bertambah usia, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.

Mengapa teman-temannya bisa berlari?

Mengapa ia harus selalu dibantu?

Mengapa setiap perjalanan terasa jauh lebih sulit baginya?

Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan berubah menjadi keputusasaan.

Ada hari-hari ketika Kris menangis diam-diam.

Yosefa pernah melihat kakaknya berada dalam titik terendah. Tangis itu tidak disertai teriakan. Tidak pula kemarahan. Hanya kesunyian yang panjang.

Di kemudian hari, Kris mengakui bahwa pernah ada masa ketika ia merasa hidupnya tidak lagi memiliki arti. Ia bahkan sempat berpikir mengakhiri hidupnya.

Namun setiap kali bayangan itu datang, ada wajah-wajah yang muncul lebih dulu.

Ibunya.

Ayahnya.

Adik-adiknya.

Ia membayangkan bagaimana hati mereka akan hancur jika kehilangan dirinya.

"Keluarga yang membuat saya bertahan," tutur Kris suatu ketika.

Kalimat itu diucapkan pelan.

Nyaris berbisik.

Tetapi justru di situlah kekuatannya.

Ia tidak bangkit karena medali.

Bukan karena olahraga.

Bukan pula karena penghargaan.

Ia bangkit karena cinta yang tak pernah berhenti diberikan keluarganya.

Dan dari rumah sederhana di Kampung Wiraska itulah, perlahan, Kris mulai menemukan alasan baru untuk menjalani hidup.

Ia belum tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, alasan itu akan membawanya berdiri—secara simbolis—di podium tertinggi Pekan Paralimpiade Nasional.

Namun sebelum semua itu terjadi, masih ada jalan panjang yang harus dilaluinya.

Jalan yang akan mempertemukannya dengan sebuah busur, sebatang anak panah, dan sebuah mimpi yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Page break

Busur yang Mengubah Arah Hidup

Hidup tidak selalu berubah karena sebuah peristiwa besar.

Kadang, ia berubah karena seseorang datang dan berkata, "Mari coba."

Begitulah awal Kris mengenal olahraga panahan.

Saat itu, ia belum pernah membayangkan bahwa suatu hari akan membawa nama Papua ke panggung olahraga nasional. Yang ia cari bukan medali. Ia hanya ingin menemukan ruang di mana tubuhnya tidak lagi dipandang sebagai keterbatasan.

Ketika pertama kali menggenggam busur, telapak tangannya terasa kaku. Tali busur yang ditarik perlahan bergetar mengikuti napasnya. Anak panah pertama meleset jauh dari sasaran.

Ia tersenyum.

Mengambil anak panah lagi.

Mencoba lagi.

Dan gagal lagi.

Tetapi tidak sekalipun ia meletakkan busur itu karena kecewa.

Pelatihnya masih mengingat hari-hari pertama tersebut.

"Dari sekian atlet yang saya latih, Kris bukan yang paling kuat," katanya. "Tetapi dia yang paling sabar."

Kesabaran itulah yang kemudian menjadi latihan sesungguhnya.

Bagi atlet lain, latihan sering diukur dari jumlah anak panah yang dilepaskan atau jam yang dihabiskan di lapangan. Bagi Kris, latihan dimulai jauh sebelum memegang busur. Ia harus memastikan tubuhnya cukup kuat. Bahunya tidak nyeri. Lengannya mampu menopang tarikan busur. Punggungnya tetap stabil ketika membidik sasaran.

Sedikit demi sedikit, anak panah yang semula melenceng mulai mendekati titik tengah.

Lalu mengenai lingkaran.

Kemudian tepat di pusat sasaran.

Panahan mengajarkan sesuatu yang tidak pernah diberikan hidup kepadanya sebelumnya: ketenangan.

Di depan papan sasaran, tidak ada yang bertanya apakah ia bisa berjalan atau tidak. Yang dihitung hanyalah ketepatan, fokus, dan konsistensi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kris merasa dirinya dinilai karena kemampuannya.

Bukan karena keadaan tubuhnya.

Emas yang Lahir dari Kesabaran

Tahun 2021 menjadi babak yang tak pernah dilupakan Kris.

Papua menjadi tuan rumah Pekan Paralimpiade Nasional XVI.

Bagi banyak atlet, tampil di rumah sendiri adalah kebanggaan.

Bagi Kris, itu juga sebuah tanggung jawab.

Ia membawa nama Papua.

Membawa harapan pelatih.

Membawa doa keluarga yang sejak kecil tak pernah berhenti percaya bahwa anak mereka mampu berdiri tegak dengan caranya sendiri.

Berhari-hari sebelum pertandingan, latihan menjadi lebih disiplin. Gerakan yang sama diulang berkali-kali. Tarik napas. Bidik. Lepaskan.

Tarik napas.

Bidik.

Lepaskan.

Ratusan kali.

Ribuan kali.

Tidak ada jalan pintas menuju ketepatan.

Di arena pertandingan, suasana jauh berbeda dari lapangan latihan. Sorak penonton terdengar bersahut-sahutan. Para atlet dari berbagai provinsi menunggu giliran dengan wajah tegang. Namun di balik ketegangan itu, Kris justru menemukan ketenangan yang selama ini ia latih.

Ia menarik tali busur.

Mengembuskan napas.

Lalu melepaskan anak panah.

Sesaat kemudian, papan skor memperlihatkan hasil yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia berhasil.

Papua berhasil.

Kris meraih medali emas.

Ia tidak berteriak.

Tidak pula melompat.

Ia hanya menundukkan kepala beberapa saat.

Di dalam hatinya, wajah yang pertama kali muncul bukanlah dirinya sendiri.

Melainkan mama.

Lalu ayah.

Kemudian adik-adiknya.

Ia teringat jalan tanah menuju sekolah.

Teringat punggung Yosefa yang menggendongnya.

Teringat lumpur di parit.

Teringat tangis yang pernah memenuhi rumah kecil mereka di Kampung Wiraska.

Semua kenangan itu seolah berdiri bersama di podium.

Medali yang kini tergantung di lehernya bukan hanya miliknya.

Medali itu adalah milik seluruh keluarga Belau.

Ketika Tepuk Tangan Usai

Di banyak kisah olahraga, medali emas sering menjadi akhir cerita.

Bagi Kris, justru sebaliknya.

Itu adalah awal dari kenyataan yang lain.

Beberapa waktu setelah Peparnas usai, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Pagi datang.

Sore berganti malam.

Tak ada iring-iringan.

Tak ada sorotan kamera setiap hari.

Tak ada kehidupan mewah.

Kris tetap membuka usaha kecil menjual pulsa dari rumah kontrakannya.

Pelanggan datang membeli paket data.

Ada yang membeli pulsa listrik.

Ada pula yang sekadar mampir berbincang.

Mereka mengenalnya sebagai orang yang ramah.

Sebagian baru mengetahui bahwa lelaki yang melayani mereka pernah menjadi juara nasional.

Namun Kris sendiri tidak pernah menjadikan medali itu sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Menurut Yosefa, kakaknya tetap seperti dulu.

Tetap sederhana.

Tetap mau berbagi ketika memiliki sedikit rezeki.

Tetap menjalani hidup seadanya.

"Tidak berubah," kata Yosefa. "Kalau ada uang, dia berbagi."

Medali emas memang memberi kebanggaan.

Tetapi ia tidak otomatis menghadirkan pekerjaan tetap.

Tidak langsung menghadirkan rumah sendiri.

Tidak menghapus kenyataan bahwa istri dan anaknya masih tinggal jauh di Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Kris memahami itu.

Karena itulah ia memilih bekerja.

Bukan karena malu menerima bantuan.

Tetapi karena ia ingin tetap memiliki martabat.

Baginya, menjual pulsa bukan pekerjaan kecil.

Itu adalah cara seorang ayah bertanggung jawab kepada keluarganya.

Ayah dari Jarak yang Jauh

Menjelang malam, aktivitas di rumah mulai berkurang.

Suara kendaraan di jalan perlahan menghilang.

Lampu-lampu rumah tetangga mulai menyala.

Kris mengambil telepon genggamnya.

Ia tahu, seseorang sedang menunggu.

Di layar ponsel muncul wajah mungil berusia tiga tahun tujuh bulan.

Anaknya.

Percakapan itu hampir selalu sama.

Tentang hari yang telah dilewati.

Tentang mainan.

Tentang makan malam.

Tentang hal-hal sederhana yang hanya dipahami seorang ayah dan anak.

Video call itu tidak pernah singkat.

Kris tidak akan menutup sambungan sebelum anaknya benar-benar terlelap.

Dari Nabire, ia menemani putranya tidur di Atambua.

Jarak ribuan kilometer dipendekkan oleh layar telepon.

Tetapi kerinduan tetap tidak bisa diukur dengan sinyal internet.

Ia ingin suatu hari nanti mereka tinggal serumah.

Ia ingin melihat anaknya tumbuh setiap pagi, bukan hanya melalui layar.

Ia ingin istrinya tak lagi menunggu kepulangan yang terus tertunda.

Kalau suatu saat Tuhan memberinya pekerjaan tetap, Kris sudah tahu apa yang akan dilakukannya.

Membeli rumah.

Mengajak istri dan anak tinggal bersamanya.

Membuat rumah sederhana untuk mama dan ayah yang telah membesarkannya.

Membeli kursi roda baru.

Dan, kalau masih ada rezeki, membeli busur panah baru.

Mimpi-mimpi itu tidak terdengar muluk.

Justru karena sangat sederhana, mimpi itu terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang.

Suara yang Tak Pernah Berhenti

Sore kembali turun di Nabire.

Langit berubah jingga.

Angin kembali menyusuri jalan utama.

Lalu suara itu terdengar lagi.

Lirih.

Berdesis.

Seperti siulan burung.

Ignasius Belau—yang lebih akrab dipanggil Kris—kembali mendorong kursi roda tiganya menyusuri jalan yang sama seperti kemarin.

Orang-orang mungkin hanya melihat seorang lelaki sedang berolahraga.

Sebagian mengenalnya sebagai penjual pulsa.

Sebagian lagi mengingatnya sebagai peraih medali emas Peparnas.

Namun di balik setiap putaran roda itu, tersimpan perjalanan panjang seorang anak yang tak pernah sempat belajar berlari, seorang kakak yang pernah digendong adiknya melewati jalan berlumpur, seorang anak yang dibesarkan oleh kasih kedua orang tuanya, seorang suami yang hidup terpisah demi bertahan, dan seorang ayah yang setiap malam meninabobokan anaknya melalui layar telepon.

Bagi Kris, kemenangan terbesar bukanlah ketika medali emas digantungkan di lehernya pada Peparnas XVI Papua.

Kemenangan terbesar itu terjadi setiap pagi ketika ia memilih bangun, berdoa, menyiapkan sarapan, lalu kembali menjalani hidup dengan keyakinan yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Bahwa hidup, seberat apa pun, harus terus bergerak.

Dan selama suara roda itu masih terdengar di jalan-jalan Nabire, perjalanan Ignasius Belau belum selesai. Ia akan terus melangkah dengan caranya sendiri—bukan menggunakan kaki, melainkan keberanian yang tak pernah berhenti menggerakkan hidupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....