Menjaga Jati Diri Papua lewat Souvenir, Kisah Martina Deba dan ArtShop Wisata Hati

  • 09 Jul 2026 12:14 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire – Pagi baru saja dimulai di Kota Nabire, Papua Tengah. Di sebuah bangunan sederhana, berbagai kerajinan khas Papua tertata rapi. Ada noken dengan aneka motif dan ukuran, tas dari tempurung kelapa, lukisan kulit kayu, gelang tangan, hingga tifa yang menggambarkan kekayaan budaya Tanah Papua.

Tempat itu bernama Toko Souvenir ArtShop Wisata Hati, sebuah ruang kecil yang menyimpan cerita besar tentang upaya menjaga identitas orang asli Papua.

Di balik eksistensi toko tersebut, ada sosok perempuan Papua asal Kabupaten Dogiyai, Martina Deba, SE. Meski kini menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Nabire, ia masih setia mengelola toko yang dirintisnya sejak bertahun-tahun lalu.

Bagi Martina, ArtShop Wisata Hati bukan sekadar tempat menjual oleh-oleh. Toko ini lahir dari kerinduan mendalam untuk mengangkat jati diri orang asli Papua, khususnya para pengrajin noken dan seni pahatan, agar karya mereka tidak hanya dikenal, tetapi juga mampu meningkatkan taraf ekonomi keluarga.

“Berawal dari kerinduan hati untuk mengangkat jati diri orang Papua, khususnya para pengrajin noken dan seni pahatan, supaya mereka dapat meningkatkan ekonomi dan derajat hidup melalui penjualan souvenir,” ujar Martina.

Perjalanan ArtShop Wisata Hati dimulai secara sederhana. Martina mengaku awalnya hanya memasarkan beberapa kerajinan tangan dalam skala kecil. Namun, saat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV, gagasannya mendapat perhatian dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Nabire. Dari sanalah ArtShop Wisata Hati berkembang menjadi toko souvenir yang lebih besar dan dikenal hingga sekarang.

Setiap sudut toko dipenuhi hasil karya tangan para seniman dan perajin dari berbagai daerah di Tanah Papua. Ada kerajinan dari Timika, Merauke, Jayapura, Dogiyai, Deiyai, Paniai, hingga Asmat. Sistem yang diterapkan pun sederhana: para perajin menitipkan hasil karya mereka untuk dipasarkan, kemudian keuntungan penjualan dikembalikan kepada pemilik karya.

Di antara koleksi yang tersedia, terdapat dompet kulit kayu, asbak ukiran Asmat, topi rajutan, tas kulit kayu kombinasi kulit buaya, lukisan kulit kayu Papua, baju adat, hingga noken anggrek khas Papua Tengah dari Kabupaten Dogiyai yang bernilai jutaan rupiah.

Bagi wisatawan yang datang ke Nabire, ArtShop Wisata Hati kerap menjadi tujuan terakhir sebelum kembali ke daerah asal. Mereka membeli berbagai cinderamata untuk dibawa pulang sebagai buah tangan bagi keluarga, teman, dan kerabat.

Bagi Martina, setiap noken yang terjual dan setiap ukiran yang dibawa pulang wisatawan sesungguhnya membawa pesan yang lebih besar. Bahwa di balik sebuah souvenir, ada identitas, ada cerita, dan ada perjuangan masyarakat Papua untuk terus berkarya.

Ia pun mengajak semakin banyak generasi muda Papua untuk menekuni seni dan kerajinan tangan sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan leluhur sekaligus membuka peluang ekonomi.

Martina bersyukur ArtShop Wisata Hati masih tetap eksis hingga hari ini. Menurutnya, keberlangsungan toko tersebut tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Nabire, khususnya Bupati Mesak Magai, yang memberikan ruang bagi dirinya untuk terus berkarya dan memberdayakan para perajin asli Papua.

Di tengah derasnya modernisasi, ArtShop Wisata Hati menjadi pengingat bahwa budaya tidak akan pernah kehilangan tempatnya selama masih ada orang-orang yang merawatnya. Dari sebuah toko kecil di Nabire, karya-karya anak Papua terus berbicara kepada dunia tentang identitas, kebanggaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....