Dari Dapur SPPG Siriwini, Lahir Inovasi Hemat Air dan Waktu untuk Ribuan Ompreng
- 21 Mei 2026 10:00 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Di tengah rutinitas panjang relawan mencuci ribuan ompreng setiap hari, muncul sebuah kegelisahan sederhana yang akhirnya berubah menjadi inovasi besar. Dari dapur SPPG 003 Siriwini, Hj. Siti Salma sebagai mitra, menghadirkan mesin pencuci ompreng hasil rakitan mandiri yang kini membantu mempercepat pekerjaan relawan sekaligus menghemat ribuan liter air setiap harinya.
Bagi sebagian orang, mencuci ompreng mungkin terlihat sebagai pekerjaan biasa. Namun di dapur pelayanan makan bergizi, pekerjaan itu menjadi aktivitas berat yang berlangsung berjam-jam setiap hari. Relawan harus membersihkan, membilas, mensterilkan hingga mengeringkan ribuan wadah makan secara manual.
Kondisi itulah yang membuat Hj. Siti Salma merasa harus mencari jalan keluar.
“Setiap hari relawan bekerja sampai larut hanya untuk mencuci ompreng. Saya berpikir harus ada cara supaya pekerjaan mereka lebih ringan, apalagi sebagian besar pekerjanya perempuan,” ujarnya saat ditemui awak media.
Berangkat dari keresahan itu, ia mulai mencari referensi melalui internet. Ide sederhana kemudian muncul: membuat mesin pembilas dan sterilisasi ompreng sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar.
Ia lalu berdiskusi dengan sang adik untuk merancang alat yang sesuai kebutuhan dapur SPPG. Prosesnya tidak langsung berjalan mulus. Kontainer yang sempat dibeli dianggap terlalu tipis dan berisiko pecah karena tekanan volume air yang besar. Setelah berpikir ulang, pilihan akhirnya jatuh pada bahan fiber yang dinilai lebih kuat dan aman.
Dari situlah mesin pencuci ompreng rakitan lokal mulai terbentuk.
Hasilnya ternyata jauh melampaui perkiraan.

Sebelum alat tersebut digunakan, proses pencucian ompreng dapat berlangsung hingga 12 jam. Kini pekerjaan yang sama mampu diselesaikan hanya dalam waktu sekitar empat jam.
“Dulu semua manual, pakai spons dan ember ke sana kemari. Sekarang jauh lebih cepat dan ringan,” katanya.
Tak hanya menghemat tenaga dan waktu, inovasi tersebut juga berdampak besar terhadap penggunaan air. Sebelumnya proses pencucian bisa menghabiskan sekitar 6.000 liter air per hari. Kini, untuk proses sterilisasi, mereka hanya membutuhkan sekitar 100 liter air panas untuk membersihkan ribuan ompreng.
Menurut Hj. Siti Salma, penghematan air menjadi alasan utama dirinya menciptakan alat tersebut. Ia melihat penggunaan air berlebihan bukan hanya pemborosan, tetapi juga berpotensi mempercepat kerusakan sistem pengolahan limbah atau IPAL.
“Saya ingin alat ini bisa menghemat waktu, tenaga, listrik dan juga air setiap hari,” jelasnya.
Kehadiran alat itu pun langsung dirasakan manfaatnya oleh para relawan.
Anice Karubaba, relawan divisi ompreng di SPPG 003 Siriwini, mengaku pekerjaan mereka kini jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.
Jika dulu seluruh proses mulai dari mencuci, sterilisasi hingga pengeringan bisa memakan waktu sekitar 11 jam, kini semuanya dapat diselesaikan lebih cepat.
“Sekarang dari jam satu siang kami mulai cuci dan sekitar empat jam sudah selesai. Anak-anak juga senang karena pekerjaan jadi lebih mudah dan tidak terlalu melelahkan,” ungkapnya.
Bagi Hj. Siti Salma, inovasi tersebut bukan sekadar alat pencuci ompreng. Lebih dari itu, ia berharap apa yang dilakukan di dapur kecil Siriwini dapat menjadi inspirasi bagi SPPG lainnya.
Ia pun membuka diri jika ada pihak lain yang ingin belajar atau mencontoh sistem yang telah mereka buat.
Dari sebuah kegelisahan sederhana di dapur, lahirlah inovasi yang memberi dampak nyata: pekerjaan lebih ringan, waktu lebih singkat, dan air lebih hemat untuk masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....