Kemarau Berdampak pada Peternakan Ayam Petelur di Kabupaten Nabire

  • 30 Sep 2026 17:14 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Usaha peternakan ayam petelur di Kabupaten Nabire Papua Tengah cukup menjanjikan, semakin banyak peternak ayam petelur, perkiraan sekitar 60-an peternak, tersebar di sejumlah distrik, salah satunya Zakkir Rahim. Usaha Peternakan ayam petelur milik Zakkir Rahim berlokasi di Satuan Permukiman B (SPB) Kampung atau Desa Wanggar Sari, Distrik Wanggar Kabupaten Nabire.

Zakkir Rahim memiliki usaha peternakan ayam petelur dengan jumlah 7000-an ekor ayam. Jumlah ayam yang cukup banyak tersebut, memiliki tantangan tersendiri dalam pemeliharaannya. Ia mengatakan, saat musim kemarau yang melanda Kabupaten Nabire tahun 2026 ini, ia harus lebih ketat memperhatikan kondisi ayam-ayamnya di kandang. "Saya harus lebih perhatikan kebutuhan minum ayam-ayam saya, kondisi kemarau menyebabkan ayam lebih banyak minum terutama waktu siang hari," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Senin pagi, 29 September 2026.

"Ada ayam yang mati karena ternyata saluran air yang menyuplai air ke beberapa ayam tersebut tersumbat, maka saya harus sering memperhatikan kebersihan saluran air," ungkap Zakkir. Ia menjelaskan, saat siang ayam lebih banyak minum karena udara panas, air selalu disediakan. Kandang juga posisi terbuka, terpal dibuka semua supaya udara bisa masuk lebih banyak.

"Kebutuhan air untuk kebutuhan usaha ayam saya, sehari bisa 4000 liter, kalau sumur saya ada dua tidak mencukupi, saya terpaksa beli air, ada beberapa warga di SPB yang menjual air, karena sumber air di sumur mereka yang masih banyak, ada yang dibawa dengan mobil untuk diantarkan ke warga lainnya," kata Zakkir.

Musim kemarau yang berdampak pada usaha peternakan ayam petelur, ternyata berdampak positif pada usaha lainnya. Usaha peternakan Zakkir Rahim, juga menghasilkan pupuk kandang, sehari ia bisa mendapatkan pupuk kandang sekitar 30-an sak berbagai ukuran. Pupuk kandang tersebut mudah mengering saat kemarau, sehingga lebih cepat bisa dikemas dan diantarkan ke pelanggan.

"Kalau pupuk kandang, hasilnya bagus saat kemarau karena proses yang cepat dibandingkan kalau musim hujan, lama dijemur," ucapnya. Ia menjelaskan, pelanggan membeli pupuk kandang dengan harga yang bervariasi, sekarung seharga 30-35 ribu rupiah, tergantung jarak pengantaran. "Banyak petani tanaman sirih yang membeli pupuk kandang saya, karena menurut mereka pupuk kandang saya cocok untuk tanaman sirihnya," kata Zakkir.

Dia berharap, ada pembuatan sumur umum yang lebih memadai untuk wilayah SPB, sehingga warga tidak membeli air. Banyak warga yang sumurnya telah mengering, mereka untuk aktifitas pertanian mengalami kesulitan, lebih-lebih pada kebutuhan air sehari-sehari mereka di rumah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....