Rupiah Menguat ke Rp17.936 per Dolar AS

  • 30 Sep 2026 14:28 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,22 persen ke level Rp17.936 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 30 September 2026. Penguatan tersebut terjadi seiring dengan mayoritas mata uang Asia yang bergerak positif.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Rabu, 30 September 2026, penguatan mata uang kawasan turut ditopang sejumlah langkah intervensi bank sentral serta pergerakan pasar obligasi global. Yen Jepang memimpin penguatan, disusul rupiah, baht Thailand, dolar Taiwan, yuan offshore, dan yuan China.

Sebaliknya, won Korea Selatan dan peso Filipina tercatat bergerak melemah. Pergerakan mata uang kawasan berlangsung ketika pelaku pasar mencermati arah kebijakan moneter dan perkembangan ekonomi global.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah langkah Bank Sentral China atau People's Bank of China (PBOC) yang menyuntikkan likuiditas sebesar CNY833,5 miliar melalui transaksi reverse repurchase agreement atau reverse repo tenor semalam dalam operasi pasar terbuka.

Pergerakan pasar obligasi global juga menjadi perhatian. Pasar obligasi Amerika Serikat kembali menguat setelah sejumlah data ekonomi menunjukkan kondisi perekonomian AS belum sepenuhnya memberikan dorongan bagi Federal Reserve atau The Fed untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih hawkish.

Perkembangan tersebut turut memberikan sentimen terhadap pasar surat utang domestik. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.03 WIB, sejumlah imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara tenor pendek hingga menengah mulai bergerak turun.

Yield tenor satu tahun turun 4,5 basis poin menjadi 6,79 persen. Yield tenor dua tahun turun 0,5 basis poin menjadi 6,87 persen, sedangkan tenor tiga tahun turun 0,4 basis poin menjadi 6,95 persen.

Sementara itu, yield tenor lima tahun turun 1,7 basis poin menjadi 7,11 persen. Yield tenor acuan 10 tahun juga turun 0,9 basis poin menjadi 7,20 persen.

Penguatan rupiah juga berlangsung di tengah langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia. Bank sentral menggunakan intervensi di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF di pasar domestik, serta Non-Deliverable Forward atau NDF di pasar luar negeri. Strategi tersebut merupakan bagian dari kebijakan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Data operasi moneter BI menunjukkan, pada 29 September 2026, transaksi DNDF jual sesi sore mencatat kurs Rp18.030 per dolar AS untuk tenor satu bulan, sementara tenor tiga bulan berada di Rp18.077 per dolar AS dengan volume transaksi sebesar 90 juta dolar AS.

Pelaku pasar juga mencermati arah yield US Treasury setelah sejumlah data ekonomi AS memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian dan prospek kebijakan moneter. Selain itu, investor menantikan data inflasi serta sejumlah indikator ekonomi domestik yang menjadi acuan untuk melihat perkembangan perekonomian Indonesia.

Berdasarkan konsensus Bloomberg yang dikutip dalam laporan tersebut, inflasi diperkirakan berada di level 3,3 persen, meningkat dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 3,19 persen. Perkiraan tersebut antara lain dikaitkan dengan perkembangan harga minyak dan dampak El Nino.

Sementara itu, impor diperkirakan tumbuh 27,8 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 27,02 persen pada periode sebelumnya. Ekspor diperkirakan tumbuh 2,5 persen, melambat dibandingkan pertumbuhan 6,05 persen pada bulan sebelumnya.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh kombinasi perkembangan pasar keuangan global, arah kebijakan bank sentral, kondisi pasar obligasi, serta data ekonomi domestik dan Amerika Serikat. Bank Indonesia sendiri dalam Tinjauan Kebijakan Moneter September 2026 menegaskan strategi stabilisasi nilai tukar tetap diperkuat melalui intervensi di pasar NDF, spot, dan DNDF.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....