Menkeu: Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Gejolak Global
- 20 Sep 2026 10:48 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut tercermin dari sejumlah indikator ekonomi nasional, termasuk aktivitas konsumsi, investasi, dan transaksi masyarakat yang tetap bergerak.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, Suahasil menyampaikan bahwa kondisi global masih menghadapi berbagai tekanan, mulai dari konflik di Timur Tengah hingga kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Menurutnya, situasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung menerapkan sikap wait and see dan menghadapi kondisi suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama.
Suahasil mengatakan, berbagai tekanan eksternal tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi perkembangan ekonomi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Namun, sejumlah indikator domestik menunjukkan perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan.
"Indikator volatilitas bergerak divergen, artinya ada tanda-tanda wait and see. Maka itu, kalau kami rekapitulasi keseluruhan, kondisi pernyataan suku bunga akan higher for longer," ujar Suahasil dalam Konferensi Pers APBN Kinerja dan Fakta, Jumat 18 September 2026.
Menurut Suahasil, ketahanan ekonomi Indonesia terlihat dari aktivitas masyarakat yang tetap berjalan. Pergerakan konsumsi dan investasi menjadi bagian dari indikator yang menunjukkan kegiatan ekonomi domestik masih berlangsung di tengah moderasi pertumbuhan ekonomi global.
"Ini terjadi di tengah proyeksi ekonomi global yang cenderung moderat, di tengah pertumbuhan ekonomi mitra negara juga," kata Suahasil.
Pemerintah tetap meminta seluruh pemangku kepentingan mewaspadai perkembangan ekonomi global. Sikap tersebut diperlukan karena perubahan kondisi geopolitik dan kebijakan moneter negara besar dapat memberikan dampak terhadap perekonomian nasional.
"Kita harus mewaspadai, tidak boleh lengah, tapi kondisi ekonomi Indonesia cukup resilien," tegasnya.
Ketahanan tersebut juga sejalan dengan sejumlah indikator ekonomi yang disampaikan pemerintah. Kementerian Keuangan mencatat, hingga 31 Agustus 2026 pendapatan negara mencapai Rp2.055,6 triliun atau sekitar 65,2 persen dari target APBN. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.295,7 triliun.
Dari perkembangan tersebut, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Keseimbangan primer juga masih berada pada posisi positif sebesar Rp154 triliun.
Suahasil menilai kondisi fiskal tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan. Pemerintah juga terus memantau perkembangan global untuk menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi perubahan yang dapat memengaruhi perekonomian nasional.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah menekankan pentingnya menjaga kewaspadaan tanpa mengabaikan berbagai indikator yang menunjukkan ketahanan ekonomi domestik. Perkembangan konsumsi, investasi, aktivitas masyarakat, serta kondisi fiskal menjadi sejumlah aspek yang terus dipantau dalam menghadapi ketidakpastian global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....