Belanja Pemerintah Naik 15,97%, Ini Pendorongnya

  • 10 Agt 2026 21:37 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut peningkatan signifikan pada belanja pemerintah menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026. Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh 15,97 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menjelaskan kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi low base effect, mengingat konsumsi pemerintah pada kuartal II 2025 mengalami kontraksi.

“Sementara di triwulan 2 tahun lalu, komponen ini terkontraksi 0,32%. Nah, jadi ini juga menyebabkan low base effect,” kata Edy dalam rilis BPS, 5 Agustus 2026.

Menurut Edy, rendahnya basis pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya membuat peningkatan konsumsi pemerintah pada kuartal II 2026 terlihat cukup signifikan. Selain faktor tersebut, realisasi belanja pemerintah juga ikut menopang pertumbuhan ekonomi.

Peningkatan belanja pemerintah antara lain berasal dari realisasi belanja pegawai, terutama pembayaran gaji dan tunjangan aparatur sipil negara (ASN). Pembayaran gaji ke-13 menjadi salah satu komponen yang turut mendorong peningkatan tersebut.

“Jadi di triwulan 2 ini ada realisasi belanja pegawai gaji 13 cair dan juga sebetulnya secara jumlah pegawai negeri kita juga mengalami kenaikan. Jadi secara jumlah nilainya juga terjadi kenaikan,” ujar Edy.

Selain belanja pegawai, peningkatan belanja barang dan jasa pemerintah juga menjadi penopang. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki porsi belanja yang lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan konsumsi pemerintah.

Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen yoy. Pertumbuhan tersebut tercatat pada seluruh komponen pengeluaran dalam Produk Domestik Bruto (PDB).

Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,97 persen, disusul Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 6,93 persen.

Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 5,06 persen, serta Ekspor Barang dan Jasa sebesar 4,13 persen.

Di sisi lain, Impor Barang dan Jasa yang menjadi faktor pengurang dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi tercatat tumbuh 8,82 persen pada kuartal II 2026. Data tersebut menunjukkan konsumsi pemerintah menjadi salah satu komponen yang mengalami pertumbuhan paling kuat pada periode tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....