Menko Airlangga Sebut Rupiah Saat Ini Masih Lebih Terkendali
- 26 Mei 2026 11:16 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tekanan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini masih relatif terkendali dibandingkan kondisi pada periode 2004 hingga 2014. Menurutnya, depresiasi rupiah saat ini masih berada dalam batas yang dapat dijaga pemerintah.
Melansir dari Bloomberg Technoz, Airlangga mengatakan dalam kurun waktu 2004-2014, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi hingga sekitar 40 persen. Pada periode yang sama, inflasi nasional juga melonjak hingga mencapai sekitar 17 persen akibat kenaikan harga minyak dunia.
“Rupiah itu di tahun 2004-2014 terdepresiasinya 40% dalam 10 tahun. Dan itu dengan inflasi yang di tahun 2005 di 17%, karena harga minyak naik ke US$140 per barel,” ujar Airlangga dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) di Jakarta, Selasa 26 Mei 2026.
Ia menjelaskan, kondisi berbeda terjadi pada periode 2014 hingga 2024. Dalam 10 tahun terakhir, depresiasi rupiah tercatat sebesar 30,6 persen dengan tingkat inflasi yang lebih terkendali di kisaran 3 persen.
Airlangga menilai stabilitas ekonomi nasional saat ini masih cukup baik meskipun rupiah beberapa kali menyentuh level pelemahan terendah sepanjang sejarah. Pemerintah, kata dia, masih mampu menjaga inflasi nasional di angka 2,4 persen dengan depresiasi rupiah sekitar 5 persen.
Selain itu, ia menegaskan kondisi sektor keuangan domestik, terutama perbankan dan korporasi, masih berada dalam kondisi solid. Menurutnya, hal tersebut menjadi modal penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global.
"Jadi seperti yang saya selalu sampaikan ekonomi kita masih kuat. Namun kita punya momentum yang tadi disampaikan bagaimana menuju 8%. Nah 8% ini daerah harus terus mendorong karena pusat itu agregat daerah,” tuturnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin kemarin kembali melemah sebesar 0,19 persen ke level Rp17.743 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah.
Sejak awal tahun 2026, rupiah tercatat telah terdepresiasi sekitar 6,26 persen. Secara tahunan, pelemahannya bahkan mendekati 9 persen. Rupiah juga menjadi satu-satunya mata uang di kawasan Asia yang mengalami pelemahan pada perdagangan hari itu.
Tekanan terhadap rupiah dinilai masih dipengaruhi sentimen domestik, mulai dari kondisi fiskal hingga ketidakpastian kebijakan ekonomi. Padahal, Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin sebagai langkah stabilisasi nilai tukar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....