Rupiah Terkoreksi ke Rp17.295, Tekanan Global Masih Tinggi

  • 29 Apr 2026 09:36 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Rabu 29 April 2026. Mata uang Garuda tertekan seiring kuatnya dolar AS dan tingginya harga minyak dunia.

Melansir dari Bloomberg Technoz, rupiah dibuka melemah 0,3% ke posisi Rp17.277/US$ dan kemudian berlanjut melemah hingga 0,41% ke level Rp17.295/US$ pada pukul 09:10 WIB.

Pergerakan ini terjadi di tengah indeks dolar AS yang stabil di level 98,64, sementara harga minyak Brent masih bertahan tinggi di sekitar US$111,9 per barel. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang ikut tertekan.

Di kawasan Asia, pelemahan rupiah menjadi yang paling dalam pada sesi pagi ini, disusul peso Filipina, won Korea Selatan, baht Thailand, dan dolar Taiwan. Sementara itu, beberapa mata uang seperti dolar Singapura, yuan China, dan ringgit Malaysia hanya menguat tipis.

Tekanan juga datang dari pasar keuangan domestik. Arus keluar dana asing pada 28 April 2026 tercatat mencapai US$136,1 juta, menjadi yang terbesar dalam sebulan terakhir dan menandai aksi jual selama empat hari berturut-turut.

Dari pasar surat utang, minat investor pada lelang Surat Utang Negara (SUN) juga melemah. Penawaran turun menjadi Rp74,95 triliun dari sebelumnya Rp78,49 triliun, sementara serapan pemerintah diturunkan menjadi Rp40 triliun.

Meski demikian, rasio bid-to-cover masih stabil di level 1,87 kali, menandakan minat investor belum sepenuhnya hilang, meski selektif terhadap tenor pendek.

Dari sisi kebijakan fiskal, pelaku pasar menanti paparan APBN Kita yang akan menjadi indikator penting arah pengelolaan anggaran negara di tengah tekanan global.

Persepsi risiko terhadap aset domestik masih terlihat dari posisi CDS Indonesia tenor 5 tahun yang bertahan di kisaran 88–91 basis poin, mencerminkan kewaspadaan investor terhadap kondisi makroekonomi.

Selain itu, selisih imbal hasil obligasi Indonesia dengan US Treasury masih lebar di kisaran 240–250 basis poin, menunjukkan premi risiko yang tetap tinggi di tengah ketidakpastian global.

Secara teknikal, kenaikan imbal hasil SUN seperti seri FR0109 ke 6,63% dan FR0108 ke 6,8% juga mencerminkan tekanan pasar obligasi akibat meningkatnya sentimen risiko.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dan cenderung berada di bawah tekanan dalam jangka pendek.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....